Motoyama Danjiri Festival 2017: The pride of the people in modern era

8:44:00 AM

Halo my beloved readers!

Mumpung masih hangat dan semangat, saya ingin sekali membagikan pengalaman saya. Tanpa sadar sudah masuk bulan Mei dan sudah melewati Golden Week saya yang kedua (sadly, this means only 2 Golden Weeks left for me :( ).

Oiya, buat yang belum tau Golden Week di Jepang, yaitu adalah sederetan libur nasional berurutan mulai tanggal 3-5 Mei yang secara berurutan merupakan hari peringatan konstitusional, hari hijau, dan hari anak di Jepang. Dan tahun 2017 ini, libur ini dimulai hari rabu hingga jumat, ditambah sabtu dan minggu, akhirnya dapat 5 hari libur which is sangat langka untuk kuli laboratorium seperti saya! Libur weekend aja udah bagus, apalagi libur 5 hari berturut2! Kalo taun lalu Golden Week saya habiskan dengan traveling kesana kemari (baca pengalaman saya di sini dan di sini). Kali ini saya menghabiskan most of the time just in Kobe, in my neighborhood due to some works at the lab (and financial issue--hehe). Terus bagian mananya yang bikin semangat untuk di share?



Tanggal 4-5 Mei kemarin, di kecamatan tempat saya tinggal, Higashinada-ku, di kota Kobe, baru saja dilangsungkan sebuah festival bertajuk Motoyama Danjiri Festival 2017. Danjiri sendiri secara harafiah diartikan sebagai "ground cart" atau semacam gerobak gitu dalam bahasa Indonesia. Danjiri di Jepang berbentuk sebuah gerobak yang diatasnya terdapat rumah-rumahan yang menyerupai jinja alias kuil/shrine. Si Danjiri ini terbuat dari kayu, yang diukir dengan berbagai macam ornamen dan dihias sedemikian rupa dengan lampion kertas. Konon katanya, berat dari Danjiri ini dalam kisaran ratusan kilo hingga ton lho! Sehingga untuk membawa dan mengoperasikannya dibutuhkan banyak orang. Di dalam rumah-rumahannya, terdapat alat musik berupa drum dan lonceng yang suaranya nyaring sekali.

Ini nih yang namanya Danjiri

Semacam gerobak besar dengan ornamen ukiran, berhiaskan lampion dan simbol-simbol kebanggaan.
Rodanya terbuat dari semacam kayu besar (??)

Action di depan Danjiri
Ini penjelasan mengenai apa itu danjiri dan apa maknanya. Saya belum mempelajari dengan detil sih, tapi intinya Danjiri ini terbuat dari kayu ebony yang dibentuk menyerupai shrine/ kuil/ jinja

Menggambarkan alat musik yang ada di dalam Danjiri. Umumnya ada drum dan lonceng yang nyaring banget bunyinya. Dalam pamflet ini dijelaskan bahwa mereka mempunyai 7 irama dasar yang mengiringi danjiri, dan irama ini punya arti masing misalnya irama ketika berjalan lurus, ketika berbelok, istirahat, irama penyemangat dan semacamnya, tapi irama dasar ini bisa berbeda-beda untuk tiap Danjiri

Danjiri Festival ini merupakan serangkaian perlombaan dan parade Danjiri dari berbagai distrik berbeda didalam kecamatan tempat saya tinggal. Tiap distrik mempunyai Danjiri-nya masing-masing yang mereka hias dan mereka tampilkan dalam kompetisi ini. Setiap Danjiri memiliki nama beserta simbolnya masing-masing sesuai dengan distrik asal mereka. Dan dari festival ini lah saya baru tau nama area tempat saya tinggal!

Ini Danjiri dari Kouji Chiku, area tempat saya tinggal

Dalam Festival kali ini, total ada 8-9 Danjiri yang berpartisipasi, mewakili distrik mereka masing-masing, ada distrik Kouji, Tanaka, Tanabe, Kitahata, Nishi-Aoki, Okamoto, Uozaki, Nakano dan Noori (saya translate huruf kanji dari nama district mereka, mohon maaf bila ada kesalahan baca). Setiap anggota tim dari masing-masing distrik menggunakan hapi (outerwear khas Jepang) dimana terdapat simbol Omiyasan--semacam cabang dari kuil dimana wilayah tersebut bernaung (saya kurang paham soal omiyasan ini, tapi kurang lebih begitulah maksudnya, maafkan bahasa Jepang saya yang terbatas...)--Kostum yang mereka gunakan bener-bener tradisional.

Ini simbol Omiyasan dari Shoji Chiku. Ada 4 area yang mengemban simbol yang sama.

Saya sempat penasaran kenapa beberapa minggu terakhir, setiap akhir pekan, di area tempat tinggal saya pasti terdengar suara lonceng dan tabuhan drum yang nyaring sekali. Belakangan ketika saya sedang jalan menuju lab, saya lihat pemuda-pemudi berkumpul. Rupanya mereka sedang latihan menabuh irama dan latihan menari untuk penampilan danjiri mereka.

Warga kampung tempat saya tinggal sedang latihan Danjiri di pinggir jalan

Motoyama Danjiri Festival ini di selenggarakan diruas jalan Motoyama. Hari pertama festival diawali dengan parade Danjiri di wilayah mereka masing-masing. Selanjutnya seluruh Danjiri akan berkumpul di jalan Motoyama ini. Di sini para juri sudah menanti dan penonton sudah menanti. Satu persatu Danjiri akan unjuk gigi di depan juri dan penonton.


Setelah proses ceremonial dan parade didepan juri dan penonton usai, rupanya aksi Danjiri tidak berhenti. Selanjutnya mereka akan melakukan parade di sekitar area Motoyama ini. Kedelapan Danjiri tersebut berpencar dan melakukan parade di "area tetangga" hingga sekitar jam 10 malam. Dan tidak berhenti sampai disitu saja. Keesokan harinya mereka kembali melakukan parade, menyisir seluruh area disekitar Motoyama sejak pagi hari, kemudian berakhir kembali ke area masing-masing sekitar jam 9-10 malam.

Hari kedua beberapa Danjiri melakukan semacam "ritual" di jinja atau shrine dari Omiyasan mereka masing-masing. Di wilayah saya ada 4 area yang berada dibawah Omiyasan ini. Mereka berputar 4 kali dihadapan pemuka setempat, baru kemudian melanjutkan parade Danjiri.--Video danjiri di shrine

Saya senang sekali melihat Danjiri Festival ini, basically karena saya emang suka segala sesuatu berbau traditional culture. Kalau ditilik lebih dalam, festival ini sebenernya mirip sekali dengan festival-festival di Indonesia yang menggunakan konsep wilayah, misalnya kayak lomba bedug antar RT atau RW, dimana para partisipan adalah orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut, atau pawai 17an dan berbagai macam lomba lainnya. Sama seperti di Indonesia, para partisipan pengusung Danjiri ini sifatnya volunteer. Tiap wilayah mengumpulkan warganya yang mau dengan suka rela berpartisipasi dalam agenda ini, kemudian mereka latihan bersama, tidak ada proses pemilihan atau penunjukkan, semua bangkit dari rasa peduli dan tanggungjawab warga terhadap kesuksesan distrik mereka dalam festival lokal ini. Untuk mendanai kegiatan ini, mereka mengumpulkan dana dari para warga di wilayah tersebut secara sukarela, dengan pengecualian warga miskin--termasuk saya--yang penghasilannya dibawah rata-rata. Rata-rata tiap rumah menyumbang minimal 1000yen, dimana uang ini digunakan untuk maintenance Danjiri, membeli snack dan minuman untuk para pemain.

Meskipun Jepang adalah negara yang sudah maju, baik penduduknya, sistem, infrastruktur, maupun teknologinya, tapi kenyataanya event tradisional seperti ini masih tetap dipertahankan. Motoyama Danjiri Festival sendiri sudah dipertahankan selama 30 tahun dan rutin diselenggarakan setiap tahun, meskipun dari tahun ketahun banyak kendala dan sempat terhenti. Tapi hingga saat ini tidak menyurutkan partisipasi masyarakatnya sebagai peserta maupun sebagai penonton. Saya jadi ingat tradisi grebeg atau sekaten di Yogyakarta. Kalau dipikir-pikir event ini kurang lebih sama dengan tradisi grebeg atau sekaten. Saya sebagai orang Yogya merasa event seperti grebeg atau sekaten tersebut biasa aja, bahkan beberapa orang menganggap event seperti itu kesannya "ndeso" atau "ketinggalan jaman", dan bahkan ada beberapa yang merasa itu annoying (karena bikin macet dan sebagainya). Well, begitu pula disini. Nggak semua orang Jepang, bahkan yang tinggal di wilayah tempat saya tinggal, merasa senang dengan festival ini. Ada beberapa orang yang merasa "terganggu dengan suaranya", atau merasa terganggu karena banyak jalan ditutup untuk acara ini, atau merasa acara ini tidak penting. Tapi, perlu kita ingat bahwa ada orang-orang seperti saya yang merasa sangat terhibur dengan event semacam itu. Dan saya yakin banyak orang yang sangat tertarik dengan sekaten atau grebeg. Menurut saya, tradisi adalah identitas kita, terlepas maju atau tidaknya jaman.
Tradisi grebeg yang lebih keren dan meriah. Ini sudah masuk festival bertaraf internasional lho!

Yang bikin saya ngga kalah tertarik adalah bagaimana orang-orang disini mendukung event ini. Keluarga para pemain Danjiri ini senantiasa ikut berpawai mengiringi Danjiri ini. Tidak jarang anak-anak ikut berpartisipasi dengan ikut menarik tali yang terikat pada Danjiri ini seolah-olah mereka ikut menariknya secara nyata. Setiap kali Danjiri ini lewat wilayah perumahan, tidak jarang keluarga dari rumah-rumah tersebut keluar untuk sekedar melihat atau menyambut Danjiri ini. Beberapa warga yang tergolong "mampu" bahkan menyediakan snack untuk para pemain Danjiri ini dan segenap warga yang mengikuti (rombongan Danjiri ini akan berhenti untuk istirahat di depan rumah warga yang menyediakan minuman). Ketika saya mengikuti salah satu Danjiri, saya ikut berhenti juga ketika mereka berhenti di salah satu rumah warga yang punya toko sake. Selanjutnya dua orang gadis keluar membawa snack yang ditawarkan ke seluruh pemain Danjiri dan warga yang mengikuti Danjiri. Hanya saya seorang yang ngga ditawari, mungkin karena saya orang asing. Entah kenapa, hal-hal seperti ini membuat saya berpikir, Jepang itu mirip banget sama Indonesia. Bahkan di negara Asia jauh lainnya, belum tentu kita bisa temukan nilai tradisi dan budaya yang sama seperti yang saya saksikan di Jepang ini. Meskipun mereka adalah negara maju, toh nilai-nilai budaya itu tetap terjaga. Menurut saya, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjaga nilai-nilai kebudayaan kita hanya karena alasan kemajuan zaman.
Segenap para panitia tim Danjiri dari distrik kouji

Sampai malam pun warga sekitar dan warga tim Danjiri tetap setia menemani perjuangan si Danjiri ini

Danjiri nya akhirnya pulang ke kandang

Sebenarnya jika dilirik dari maknanya, Danjiri Festival ini sarat akan makna keagamaan, karena ritual mereka yang melibatkan jinja/shrine/kuil di dalamnya, meskipun makna agama sendiri dalam kehidupan orang Jepang tidak lebih dari sekedar budaya. Selama saya mengikuti festival ini, saya sempat ngobrol bareng beberapa bapak-bapak dari beberapa tim Danjiri yang berbeda. Ketika saya singgung apa makna dari festival ini, jawaban mereka adalah rasa bangga terhadap kebudayaan dan rasa bangga terhadap distrik mereka masing-masing, tidak ada makna lain. Bahkan ketika saya tanya mengenai ritual di jinja/shrine/kuil, mereka menjawab itu hanya tradisi, bahwa mereka harus menghormati Tuhan, tapi bukan berdoa atau memuja Tuhan (kinda complicated, huh?).

In Japan, it's all about pride. And that pride got them where they are now.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang selalu melihat ke bangsa lain dan melihat rendah ke bangsa sendiri. Ingat, rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Tapi percayalah bahwa kita punya hal-hal lain yang sudah sepatutnya dibanggakan. Mulailah berhenti iri kepada bangsa lain, kenapa bangsa ini bisa begitu, kenapa bangsa itu bisa begini. Kita juga bisa kok! Yang kita butuhkan hanya rasa percaya bahwa kita memang bisa, dari rasa percaya dan bangga itulah kemudian kita bangkit dan bergerak.

Jepang dahulu adalah negara yang kalah perang. Tapi dengan prinsip "lupakan masa lalu, ayo kita songsong masa depan" toh akhirnya mereka bangkit menjadi bangsa Jepang yang sekarang. Ingat, kita merdeka sendiri lho, sudah sepatutnya kita mampu bangkit lagi!

You Might Also Like

0 comments

Tinggalkan pesan manismu disini yah..... =)
Yang ninggalin pesen sama manisnya ma yang nulis blog...
hahaha

Follow me on Instagram

Instagram

Share it!