Takarazuka Revue: when women rule (the world of theater)

9:43:00 AM

I've been very lazy lately to post something, but finally I found something that I would really love to share to you guys, wahai para pembaca budiman! Mumpung sekarang bertepatan dengan hari Kartini, yang identik dengan harinya para perempuan di Indonesia saya ingin membahas sesuatu yang berkaitan dengan Girl Power. THIS WRITING IS BASED ON MY OPINION, YOU CAN AGREE OR DISAGREE.

As you can see from my tittle, yes, it is about TAKARAZUKA REVUE or the Takarazuka theater. Takarazuka sebenernya adalah nama sebuah kota di prefektur Hyogo, Jepang, dimana kota ini terkenal karena perusahaan kereta swasta bernama Hankyu Railway, dan salah satu anak bisnis dari perusahaan kereta ini berupa teater yang bertajuk Takarazuka Revue! Awalnya, teater ini dibangun untuk meningkatkan popularitas dan serta memberi hiburan tambahan untuk para pengunjung hot spring di kota Takarazuka. Seiring berjalannya waktu, teater ini kemudian berkembang menjadi salah satu teater yang iconic di Jepang. Mau tau kenapa? Simak terus.

Takarazuka Grand Theater Entrance 


TAKARAZUKA REVUE: THE ALL WOMEN THEATER

Yep, you heard it.
Semua pemain dalam teater ini adalah PEREMPUAN.
Who run the world? Girl!
Keliatan kan? semua cewek!

Kenapa harus perempuan semua? Rupanya ada sejarah tersembunyi yang ingin sekali saya sebarkan (sebenernya ada di internet sih hehe). Sekitar akhir tahun 1800an menuju 1900an, panggung teater menjadi hiburan yang terkenal di Jepang. Sayangnya bisnis dunia teater ini di dominasi oleh lelaki saja, para wanita dilarang untuk bergabung (itulah mengapa pemain kabuki semuanya adalah laki-laki). Memang Jepang adalah negara yang cukup kentara male dominance nya, but that's not the only reason. Menurut mereka, jika wanita ikut bermain teater, maka ujung-ujungnya akan berakhir menjadi bisnis jual-beli wanita atau prostitusi. Well, women are interesting and men just want to rule everything, right?

Untuk itulah, akhirnya di Takarazuka dibangun sebuah teater yang semuanya beranggotakan perempuan. Bagi para perempuan di jaman itu, teater ini adalah bentuk kebebasan mereka dalam berekspresi.

TAKARASIENNE: THE SYMBOL OF HARDWORK 

Takarasienne adalah sebutan yang digunakan untuk para pemain Takarazuka. Karena semua pemain takarazuka adalah perempuan, jadi bagaimana dengan peran laki-laki?
Well, of course dilakoni oleh perempuan juga!
Para Otokoyaku (source: google.com)

Di Takarazuka ada dua jenis pemain yang disebut Otokoyaku, pemain yang khusus memerankan peran laki-laki dan Musumeyaku, pemain yang memerankan peran perempuan. Nah disinilah yang menarik. Tubuh memang ngga bisa menipu, walaupun para otokoyaku ini bisa menyembunyikan dada mereka dibalik kostum, tapi panggul dan paha tidak bisa menipu, ketika memakai celana yang agak ketat, jelas terlihat mereka perempuan. Tapi jika kita fokus pada gerak-gerik mereka, cara bicara mereka, nada bicara, dan yang paling dahsyat adalah tone suara mereka, that's not a woman! Bener-bener seperti naturally born man! Apalagi jika kita bandingkan dengan cowok2 boyband atau anime Jepang, mirip abis!

Ternyata, untuk menjadi otokoyaku tidaklah mudah, penuh kerja keras dan ketekunan. Sebelum bisa bergabung dengan teaternya, para pemain ini harus terlebih dahulu ikut audisi untuk bergabung di Takarazuka Music School dimana mereka akan berlatih menari, menyanyi, bermain piano, acting dan lainnya selama 2 tahun, kemudian mereka akan dimasukkan ke dalam kelompok otokoyaku dan musumeyaku. Untuk para anggota otokoyaku, mereka harus memangkas pendek rambut mereka, menggunakan baju ala laki-laki dalam keseharian mereka, bicara dengan tone laki-laki, dan mengikuti gerak-gerik layaknya laki-laki tulen. Dan ini bener-bener ngga mudah. Kalau kita perhatikan para otokoyaku ini, mereka bisa bernyanyi dengan range suara laki-laki which is very rare.  Ketika mereka menyanyikan nada tinggi pun tone laki-lakinya bisa dijaga dengan baik. Belakangan saya baru bahwa para otokoyaku itu ketika bicara dalam kesehariannya pun tone suaranya kadang sudah "ngga mirip tone suara perempuan" lagi, walaupun beberapa masih berbicara dengan tone perempuan. Mungkin karena intens latihan hingga tone suaranya berubah. Begitu pula dengan gerak-gerik dan gaya berpakaian mereka. Kalo ngga ngerti, kita pasti mengira mereka itu lelaki, secara di Jepang kultur "cowok cantik"-nya sangatlah kental, apalagi para otokoyaku ini umumnya adalah perempuan dengan tinggi badan diatas rata-rata, makin mirip sama cowok deh!
Yuzuru Kurenai, Top Star dari Star Troupe, yang penampilannya saya saksikan.
To me, she is still pretty, not handsome (source: google.com)

Even outside the play, otokoyaku still looks like otoko (man). Yuzuki Reon, one of the top stars
(source google.com)

Menjadi pemeran laki-laki tidaklah mudah, itulah sebabnya kenapa para top star Takarazuka adalah otokoyaku. Umumnya mereka akan berhasil meraih posisi top tersebut setelah bergabung selama belasan tahun. Well, hanya kerja keras dan ketekunan yang akan membawa mereka ke posisi puncak, no jumping the line by stealing performance.

TAKARAZUKA FACT: WOMAN PORTRAYING A MAN IS MORE APPEALING THAN A MAN HIMSELF

Well, saya bukan seorang feminist, bahkan saya ngga ngerti apa artinya itu. Saya juga bukan penggiat gerakan persamaan gender. Saya juga bukannya mau membahas issue gender, same-sex love, atau semacamnya, disini saya hanya akan menuturkan fakta yang ada. Bahwa 80-90% penggemar Takarazuka adalah wanita, mulai usia remaja, hingga ibu-ibu paruh baya. Dan mereka ini adalah pemuja para otokoyaku! Dalam setiap performance, mereka rela menunggu di depan pintu masuk gedung untuk para pemain demi bertemu para otokoyaku favorit mereka masuk ke gedung dan ketika keluar dari gedung setelah performance.  Mereka benar-benar memuja para top star otokoyaku Takarazuka. Why?
strong like a man but also soft like a woman
(source: google.com)

Para otokoyaku rupanya menggambarkan sosok lelaki ideal bagi para wanita Jepang, a dream figure. Para otokoyaku ini terlihat sangat strong, gagah, charming, menarik, segala macam daya tarik laki-laki mereka punya tapi tanpa sisi kasar seperti lelaki pada umumnya karena otokoyaku pada dasarnya adalah wanita (Saya tidak menyudutkan laki-laki lho ya!). Mungkin pemikiran begini terbentuk karena sistem sosial di Jepang yang begitu didominasi oleh laki-laki, perempuan dianggap lemah dan tidak berdaya, posisinya hanya sebagai pelengkap saja, sehingga para wanita di Jepang mengidolakan sosok lelaki yang "lembut".

TAKARAZUKA: WOMAN IS STILL A WOMAN

Despite their acting as a man, Takarazuka tetap menonjolkan sisi kewanitaannya, bahkan dibarisan otokoyaku sekalipun. Coba perhatikan makeup tebal mereka. Meng-highlight eyebrow, eyeline, dan membuat contour di wajah adalah penting untuk menonjolkan fitur laki-laki. But bold eyeshadow and bright red lipstick?  are those necessary to make them look masculine? What about high heels they're wearing? Yep, menurut saya, Takarazuka sendiri tetap menjujung tinggi simbol kewanitaan mereka. Bukan berarti karena mereka berhasil memportray men role dengan suksesnya dan menghipnotis banyak wanita di Jepang kemudian mereka lupa bahwa sejatinya mereka adalah perempuan. Dan identitas itu tetap terlihat dalam penampilan mereka, believe it or not.
They are STILL a WOMEN!
(source: google.com)

Well, that is just my two cents!
Personally, saya tidak begitu suka dengan cewek yang terlalu nyaman sebagai laki-laki. Cewek sebaiknya jadi cewek ajalah ya. But I really appreciate their work. What really appealing from their performance are:


1. Great Costume and Makeup!

Drama yang saya tonton waktu itu berjudul The Scarlet Pimpernel dengan latar belakang Paris dan London tahun 1792, dimana masih jamannya pake dress yang roknya mekrok, lebar dan melambai-lambai. Para prianya pake tuksedo gitu, Well, it was my childhood dream to wear such dress, having long curly hair like them and dancing with it.
from Napoleon Bonaparte play. Kabarnya untuk drama ini, kostumnya memakan biaya yang sangat besar. Ngga heran deh, hasilnya emang bagus banget kostumnya! (source: google.com)

Kostum di The Scarlet Pimpernel
(source google.com)

As for makeup, some people say "that's too heavy", but believe me without those kind of makeup, you won't be able to see their mimic from a far (especially for people like me who sit in the cheapest seat)

2. Great Story

Judul yang diusung di teater ini mayoritas adalah drama barat. Well yeah, karena si pendiri teater ini memang pingin menyuguhkan hiburan kebarat-baratan yang waktu itu sedang booming di Jepang. Apalagi kalo menyuguhkan drama Jepang, maka akan bersaing berat dengan Kabuki. So, western story seems better!

Tapi sejalan dengan berkembangnya jaman, teater ini akhirnya menampilkan juga kisah-kisah jepang. Tidak hanya itu, mereka juga mengangkat kisah dari game terkenal seperti Sengoku Basara, anime terkenal seperti Rurouni kenshin, dan masih banyak lagi!

3. Great musical!

I really like live music performance. Jadi waktu lihat mereka nyanyi (dan menari) secara live, saya jadi ikut semangat. Bernyanyi penuh emosi itu ngga gampang soalnya. Ketika mereka menyanyikan sebuah lagu dan emosinya tersampaikan kepada penonton, rasanya sangat menakjubkan.

Khususnya dalam drama The Scarlet Pimpernel ini, music scorenya bener-bener bagus! Beberapa lagu yang mereka bawakan bahkan sampai terngiang-ngiang di kepala saya bahkan setelah performance mereka selesai. Saya memang tipe orang yang begitu suka sesuatu, pasti bakal langsung melekat terus sih. Walaupun si pemeran utama ini nyanyi-nya ngga terlalu bagus, tapi nada lagunya bener-bener melekat.

My favorite song from the play:

4. Great Stage!

Saya sampe mangap pertama kali lihatnya. Panggungnya ngga cuma bisa naik turun aja, tapi juga bisa berputar. Ganti setting panggungnya terasa sangat smooth dan apik. Tata panggung dan lightingnya perfect deh.

Takarazuka ini punya panggung iconic bernama "step by step" yang bentuknya seperti ribuan tangga kecil yang berhias kan lampu layaknya panggung Las Vegas. Panggung ini bisa di set dalam waktu sekejap saja lho post performance mereka. Dan diatas panggung ini mereka akan melakukan finale berupa dance para otokoyaku yang sangat iconic.
Finale para otokoyaku diatas step by step stage (source: google.com)

Kayak las vegas show kan? Well, Takarazuka memang di desain menjadi hiburan ala2 barat, walaupun sekarang sudah banyak drama jepangnya juga (source: google.com)
Saya ngga mau kalah dong


5. Harmony of choreography

About choreography, I am not really a big fan of it. Most of the choreography are derived from ballet moves. Since I am not "ballet person" so I am not really interested in it. But seeing them singing and dancing in group, those harmony in melody and step are killing me.



Tidak lupa saya akan memberi beberapa tips tentang menonton Takarazuka. Walaupun saya baru pertama kali nonton, tapi teman saya yang rajin nonton punya beberapa tips nih:

Beli tiket harus jauh-jauh sebelumnya. 2-3 bulan sebelumnya bahkan. And believe me, it is not easy to get the ticket. Ticket usually sold out in minutes after opening (because of their hardcore fan!). Kalau temen ada yang punya semacam membership, mending titip deh. Apalagi untuk tiket weekend. Kebetulan sensei-nya teman saya adalah seorang penggemar Takarazuka, so that's my golden ticket!

Performers dalam Takarazuka terbagi menjadi 5 troupe, Flower, Moon, Snow, Star and Cosmos, jadi pastikan kita menyaksikan drama dari troupe favorit kita. Karena masing-masing troupe punya top star dan jajaran pemain yang berbeda tentunya. Tapi kalo kita cuma coba-coba nonton, cukup memperhatikan judul dramanya aja. Salah satu recommended drama-nya adalah Rose of Versailles (katanya kostum dalam play ini bagus banget!) yang bakal masuk dalam daftar must watch list saya disamping Rurouni Kenshin tentunya.


Nabung dulu. Harga tiketnya mahal lho. Hampir sama kayak beli tiket konser. Kecuali kalo kita ngga keberatan duduk di kursi paling ujung di lantai dua. That was my seat, and still, it was worth every penny ;) Kalo duduk disini mungkin lebih baik bawa teropong (katanya sih bisa sewa di lokasi, tapi saya kemaren ngga nyoba)
kursi peweee

kursi murah (nggak murah juga sih sebenernya ^^; jadi agak jauh dari panggung

Jangan khawatir dengan bahasa
. Sebelum masuk hall pertunjukkan, kita bisa mengambil flyer yang berisikan informasi tentang drama yang akan kita tonton. Biasanya memuat info tentang synopsis dramanya, list nama pemain, dan etika menonton. Untuk memahami jalan cerita dengan pasti memang sebaiknya kita paham bahasa Jepang, tapi buat saya yang hanya paham sebagian, saya tetap bisa memahami jalan ceritanya kok. Bahkan pada bagian joke-joke dan humornya. Tapi kalo kita memang zero Nihon-go, saya ngga menyarankan sih buat nonton ini...

Pipis lah sebelum pertunjukan dan sewaktu break time. Jadi jangan kaget kalo antrean toilet disini panjangnya minta ampun sebelum pertunjukkan. Golden time untuk ke kamar mandi adalah 10 menit terakhir break time, begitulah saran teman saya. Sesi pertama drama makan waktu 1,5 jam, sementara sesi keduanya makan waktu 1 jam.

Makan dan minum dalam hall selama pertunjukan adalah dilarang, tapi kita punya waktu 30 menit dalam intersession break dimana kita bisa jajan, makan, minum, ngobrol dan tentu saja PIPIS. Manfaatkan waktu ini baik-baik karena menonton pertunjukkan Takarazuka memakan waktu sekitar 3 jam.

Behave during the play. No cellphone, no video or taking photo!


Yang jelas setelah nonton Takarazuka, saya jadi sadar kenapa di Jepang genre "cowok cantik" itu begitu populer. Lelaki-lelaki flamboyan nan lemah gemulai begitu disukai. Dan terjawab sudah kenapa para pengisi suara tokoh laki-laki di anime justru malah seorang perempuan. Yang dulunya saya cuma penasaran sama Takarazuka gegara sering disebut di komik Crayon Shinchan, sekarang saya jadi tahu apa itu sebenernya teater Takarazuka. Dan buat anak generasi 90an yang pernah baca serial TOPENG KACA, believe it or not, ternyata kenyataan di dunia per teater-an di Jepang persis seperti yang digambarkan dalam komik Topeng Kaca itu. Believe me, Mayuko Chigusa dan Maya Kitajima itu ngga lebay, memang begitu dunia itu di Jepang.

Lastly,

Takarazuka Revue is selling dreams to women, giving them something that they can only dream about, giving them something that they can not get. It is all about dream.

I am not a big fan of women dressing like men, but I will watch Takarazuka again!
What about you?

I tried to put heavy makeup like Takarasienne and let's see if I look handsome

Well.
Maybe 
No.

You Might Also Like

0 comments

Tinggalkan pesan manismu disini yah..... =)
Yang ninggalin pesen sama manisnya ma yang nulis blog...
hahaha

Follow me on Instagram

Instagram

Share it!