Japan's Graduate School Entrance Exam

2:44:00 AM

Akhirnya, saya ingat bahwa saya punya satu hutang, yaitu menuliskan pengalaman ini!!

I am so sorry dear reader!! Saya lupa kalo mustinya saya share pengalaman ini juga, terutama buat teman-teman yang ingin melanjutkan sekolah ke Jepang menggunakan beasiswa yang bukan dari pemerintah Jepang, dimana ujian masuk menjadi salah satu syarat di awal. Nah, sebelum kita masuk soal ujiannya, rasanya perlu saya jelaskan dulu mulai dari awal.

So, here we go


PERSIAPAN

Untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, nomor satu kita harus punya persiapan yang matang, termasuk MOTIVASI yang kuat. Karena motivasi inilah yang bakal mengantar kita mendapatkan beasiswa, mendapatkan supervisor, hingga meyakinkan penguji. Motivasi saya sendiri sudah saya persiapkan sejak SMP, dan semakin kuat semenjak kuliah. Jadi, ngga perlu dibahas lah ya? hehehehe

Nah, setelah punya motivasi, harus dilanjutkan dengan action. Niatnya mau sekolah keluar, ya harus mulai cari peluang. Sebelum menentukan universitas yang akan saya tembak, terlebih dahulu saya mencari informasi dan rekomendasi dari lingkungan saya. Karena universitas ini memiliki reputasi yang baik dilingkungan saya, jadilah saya memilih Kobe University sebagai tujuan saya. Ingat ya, bukan asal milih Universitas. Setelah menetapkan universitas dan bidang tujuan, kemudian saya diperkenalkan dengan supervisor saya. Penting untuk melakukan komunikasi dengan profesor yang akan menjadi supervisor kita, karena supervisor kita lah yang akan menentukan nasib kita di Jepang.

Selanjutnya, mulailah mengecek program Graduate School di Kobe University.

Mostly, di Jepang, program master sifatnya tidak wajib. Maksudnya untuk bisa ke jenjang S3, tidak perlu mengambil S2 terlebih dahulu. Banyak teman-teman yang menanyakan apakah saya sudah mengambil S2, jawaban saya adalah tidak, saya langsung ambil S3. Karena pemerintah Jepang menetapkan bahwa pendidikan formal berjenjang yang dilakukan selama 18 tahun adalah setara dengan pendidikan Master. Sehingga fakultas seperti kedokteran, kedokteran gigi, dan farmasi yang jenjang S1-nya memakan waktu 6 tahun (termasuk S1 dan program profesi--yang jika di total dari SD menjadi 18 tahun sekolah) dianggap sudah setara dengan master sehingga bisa langsung apply ke jenjang S3.
Dalam kasus saya, seperti itu.

Setelah menetapkan motivasi, jenjang, program tujuan, segeralah mencari informasi melalui internet. Website Universitas di Jepang sangat update dalam hal ini. Kalo informasinya belum keluar, coba buka website universitas dalam versi bahasa Jepang--kemudian di translate menggunakan translator online--, biasanya lebih cepat update.

Intinya, sistem penerimaan mahasiswa di Jepang ada dua periode dalam satu tahun, yaitu Spring and Autumn. Mahasiswa Jepang umumnya memulai semester di musim semi alias bulan April, karena sistem pendidikan mereka dimulai dan diakhiri di bulan April (untuk semua jenjang), sementara di musim gugur (Autumn), sekitar bulan Oktober, biasanya diperuntukkan mahasiswa asing--international program. Sangat jarang ada mahasiswa Jepang yang mulai di bulan ini, karena kalender pendidikan mereka yang berpatokan pada bulan April. Jadi, untuk mahasiswa asing sebenernya bisa memanfaatkan dua periode tersebut, bisa masuk bulan April mengikuti kalender pendidikan Jepang, atau masuk bulan Oktober sesuai program international.

Yang perlu diperhatikan adalah jadwal pendaftarannya. Untuk yang mengincar bulan Oktober, biasanya pendaftaran dan ujiannya dilakukan di bulan yang berdekatan, biasanya sekitar musim panas, antara Juni-Agustus di tahun yang sama. Misalkan kita mau masuk bulan Oktober 2016, maka pendaftaran kemungkinan dibuka pada Juni 2016, dan ujian sekitar bulan Juli/Agustus 2016. Tapi lain halnya dengan penerimaan bulan April. Karena penerimaan bulan ini adalah untuk mengakomodir mahasiswa seluruh Jepang, jadi pendaftaran dan ujiannya diadakan 2 gelombang. Gelombang pertama diadakan pada musim panas pada tahun sebelumnya, dan gelombang berikutnya adalah di musim dingin pada tahun yang sama. Misalkan akan masuk bulan April 2016, maka ujian gelombang pertama adalah antara bulan Juli-Agustus 2015 dan gelombang kedua pada bulan Januari 2016.

Yang ngga kalah penting adalah benefit dari masing-masing admission period. Kalo kita masuk sebagai mahasiswa asing di admission April, sebenernya peluangnya cukup besar, karena kuotanya cukup besar, tapi yang apply tidak banyak. Kerugiannya, tidak ada welcome party, campus orientation for international student, dan party-party lain di periode ini. Karena internasional student yang masuk di periode ini diperlakukan seperti student Jepang. Kalo admission bulan Oktober, yang jelas pesaingnya adalah sesama mahasiswa asing, dan peluang tiap universitas beda-beda (beda kuota), jadi bisa dibayangkan sendiri, mungkin lebih ketat persaingannya (kecuali yang lewat monbusho, persaingan sudah jelas sejak seleksi beasiswa). Namun keuntungannya, bakal banyak party-party untuk menyambut mahasiswa asing!

Dalam pengalaman saya, saya memilih admission bulan April 2016 karena pertimbangan usia, meskipun sebenarnya saya bisa saja mengambil admission bulan Oktober 2016. Apalagi Supervisor saya mendukung keputusan saya untuk mulai di bulan April. Jadilah saya mulai mencari informasi. Karena pada musim panas 2015 saya masih belum dapat beasiswa, maka saya memutuskan untuk mengambil  ujian musim dingin (Januari 2016). Pendaftaran sudah dibuka sejak bulan Oktober-November seinget saya, sehingga penting untuk kita menyiapkan dokumennya terlebih dahulu.

Penting untuk diketahui bahwa tidak semua universitas di Jepang menerapan sistem pendaftaran online seperti di Eropa yang menggunakan sistem scan dan upload. Di Jepang, beberapa universitasnya masih menggunakan sistem pos untuk dokumen pendaftaran. Jadi kita harus mempersiapkan jangka waktu tertentu untuk proses pengiriman dokumen melalui pos. Dalam kasus saya, dokumen tersebut butuh waktu sekitar 1 minggu untuk sampai di Jepang. So, jangan sampe kelewatan deadline karena ini.

Dokumen yang dibutuhkan juga cukup beragam, tergantung universitasnya. Beruntungnya saya, di Kobe University, persyaratan dokumen tidak terlalu berat, hanya formulir, sertifikat bahasa, ijazah+transcript, dan surat rekomendasi. Saya lihat di beberapa universitas ada yang mensyaratkan surat2 khusus lain.

Selanjutnya adalah melakukan pembayaran. Biasanya melalui transfer. Pihak universitas akan memberikan informasi bank mereka, dan kita hanya perlu transfer. Saya melakukan transfer ini melalui bank BRI. Cukup simple, namun kita harus ingat bahwa proses transfer antar negara membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga kita harus menyiapkan waktu, jangan sampai kelewat deadline. Jangan lupa juga untuk menyertakan bukti pembayaran ini ke dalam dokumen pendaftaran.

Setelah urusan pendaftaran beres, pihak universitas akan memberikan kartu ujian dan nomor ujian, yang sayangnya tidak bisa mereka kirim keluar Jepang, sehingga ada baiknya jika proses pendaftaran ini kita dibantu dengan orang-orang yang sudah berada di Jepang sebelumnya.

Selanjutnya, tinggal menunggu ujiannya.

THE EXAM

Ujian yang saya ambil adalah ujian untuk PhD program di Kobe University Graduate School of Medicine. Ujiannya diadakan pada satu hari, dari pagi hingga siang, ngga sampai seharian kok. Yang menjalani ujian hari itu hanya para kandidat untuk program PhD Graduate School of Medicine aja. Untuk jurusan lain, biasanya tanggalnya berbeda, dan lokasinya pun berbeda.

Materi ujiannya?
Ujiannya terdiri dari ujian tertulis dan ujian wawancara. Beruntungnya saya, tidak ada ujian presentasi.

UJIAN TERTULIS
Saya cukup terkejut bukan kepalang dengan ujian tertulisnya. Supaya anda tidak terkejut juga, jadi akan saya jelaskan. Pada lembar petunjuk ujian dijelaskan bahwa ujiannya merupakan UJIAN BAHASA INGGRIS. Sekali lagi, UJIAN BAHASA INGGRIS. Artinya, yang dievaluasi adalah kemampuan bahasa inggris, dan BUKAN KNOWLEDGE. Jadi, ngga perlu repot-repot belajar tentang keilmuan kita. Karena pertanyaannya adalah seputar bahasa inggris, yang diwvaluasi adalah kemampuan berbahasa. Panitia ujian mengijinkan peserta untuk membawa kamus, tapi bukan kamus elektronik.  Anda boleh bawa atau enggak, namun dari pengalaman saya, kamus itu akhirnya hampir ngga saya buka sama sekali. Hanya sekali saya buka.

Nah, yang bikin saya terkejut adalah isi ujiannya. Dalam batin saya, ini ujiannya mungkin modelnya kayak ujian toefl atau ielts. Tapi ternyata saya salah. Ujian tertulis ini hanya terdiri dari 10 pertanyaan. Ada 2 artikel dimana tiap artikel mengandung 5 pertanyaan. Artikelnya cukup panjang. Pertanyaan pertama dari artikel pertama memiliki 5 jawaban. Jadi kita diminta untuk mengisi kotak-kotak kosong dalam artikel pertama dengan kata yang sesuai. Ada satu soal dimana kita diberikan kata-kata secara acak, dan kita diminta untuk menyusun kalimat. Ada satu soal pertanyaan yang jawabannya ada di dalam artikel, kita tinggal menuliskan dalam kalimat indirect report. Ujian ini ternyata lebih mirip dengan ujian bahasa inggris jaman sekolah dulu.

Mungkin untuk orang yang fasih alphabet dan familiar dengan bahasa inggris--bukan pandai bahasa inggris lho ya-- tidak ada masalah dengan model ujian ini. Saya lihat, saya dan seorang warga Nepal yang duduk di belakang saya nampak tenang saja dan cukup cepat dalam menyelesaikan ujian. Tetapi, untuk orang Jepang yang duduk di samping dan depan saya, kelihatannya cukup repot karena harus membuka-buka tumpukan kamus disampingnya. FYI, masing-masing peserta ujian yang orang Jepang, umumnya membawa 2 macam kamus atau lebih yang tebelnya minta ampun.

Ujian ini durasinya sekitar 1jam 30menit seingat saya. Dimulai benar-benar tepat waktu lho! Jadi jangan sampai terlambat. Pengalaman saya, saya hampir aja terlambat karena bangun kesiangan. Sampai-sampai salah satu panitia menunggu saya datang diluar gedung dan buru-buru mengescort saya ke ruang ujian.

Diawal ujian akan diberikan briefing DALAM BAHASA JEPANG. Hahaha mampus. Tapi tenang aja, panita ujian menyediakan seorang translator yang menjelaskan tentang ujiannya dalam bahasa inggris khusus untuk saya dan teman dari Nepal yang duduk di belakang saya. Mengejutkan memang, ujian untuk admission April memang bukan di peruntukkan orang asing, sehingga jangan kaget kalo peserta ujian yang orang asing hanya KAMU dan YANG DUDUK DIBELAKANGMU. hehehehe

Setelah ujian tertulis selesai, panitia akan mengumpulkan lembar jawaban dan soal. Peserta ujian harus menunggu di dalam sampai mereka mengkonfirmasi bahwa jumlah soal dan jawaban lengkap. Setelah itu peserta digiring untuk pindah ke lokasi ujian wawancara.

UJIAN WAWANCARA
Ada jeda waktu sekitar 15menit sebelum ujian wawancara dimulai. Yang butuh ke toilet untuk pipis dan DANDAN, inilah saatnya. Konon katanya, di Jepang, performance, termasuk penampilan juga masuk pertimbangan. Tapi kelihatannya itu ngga berlaku buat international student. hehehe. Wajah saya kusut kayak gembel soalnya. hoho.

Setelah waktu istirahat selesai, peserta akan diurutkan sesuai nomor ujian. Peserta akan dipanggil bener-bener sesuai jamnya wawancara. Peserta yang akan diwawancarai akan digiring ke lorong dengan ruang-ruang kecil. Di sebelah pintu ruang-ruang kecil itu sudah disediakan kursi kecil untuk menunggu dan meletakkan bawang-barang kita seperti tas dan tetekbengeknya. Tau nggak suasananya kayak apa? Kayak pas ujian OSCE! Rasanya kayak nunggu giliran masuk ke dalam ruang OSCE.

Sebelum waktu ujian dimulai, panitia menjelaskan tata kramanya. Jika waktu ujian sudah dimulai, kita diminta untuk mengetuk pintu terlebih dahulu, menunggu hingga interviewer mempersilakan, baru kemudian masuk dan wawancara dimulai. Dan seperti itulah yang harus kita lakukan. Ketuk pintu, tunggu jawaban, masuk, dan tunggu dipersilakan duduk. And the interview begin.

Ujian wawancara ini berlangsung cukup singkat, hanya 10 menit sharp. Diawali dengan perkenalan. Tidak hanya peserta, interviewer juga akan memperkenalkan diri. Interviewer saya adalah kepala bagian Cardiovascular dan seorang profesor dari departemen psikiatri yang walaupun sudah tua tapi ganteng--intermezzo.

Materi ujiannya?
Yang jelas interviewer akan menanyakan hal-hal krusial seperti:
kenapa Kobe?
Kenapa Cardiovascular?
Adakah pengalaman riset terdahulu?
Pengalaman bekerja sebelumnya?
Apakah interest kita?
Apakah yang akan dilakukan kedepannya?
Kurang lebih itu, karena waktunya sangat singkat. Sisanya hanya basa-basi seperti tentang cuaca di Jepang, tentang pengalaman datang ke Jepang pertama kali, dan sebagainya.

Seorang teman saya bilang, katanya kalau ujian wawancara di Jepang itu kita harus serius dan meyakinkan. Namun, dalam kasus saya, ujian wawancara berlangsung dengan hangat, tidak ada ketegangan, namun tetap profesional. Sempat diselingi tawa juga bahkan. Mungkin untuk tiap intervewer akan berbeda pengalamannya. Kebetulan kepala bagian Cardiovascular di Kobe University ini memang terkenal ramah. Mungkin saya beruntung.

Setelah selesai ujian, saya langsung digiring keluar area ujian dan ujian sudah berakhir. Singkat dan tepat waktu! Sebelum jam makan siang saya sudah bebas dari ujian! Sangat menyenangkan.

Well, kurang lebih begitulah pengalaman saya. Banyak orang berkata bahwa untuk mahasiswa asing, ujian ala mahasiswa jepang begitu itu hanyalah formalitas, karena keputusan diterima atau tidaknya sebenernya berada ditangan supervisor kita ketika kita approach beliau pertama kali. But, who knows?

Pesan saya yang ngga kalah penting adalah soal outfit. Tidak ada aturan jelas mengenai outfit ujian, tapi berhubung di Jepang, kita harus ikut aturan sosial disini. Suit dengan kemeja putih adalah pilihannya. Jadi jangan lupa ya untuk mempersiapkan blazer, celana dan kemeja. Dan jangan bangun kesiangan apalagi terlambat. Okay?

Semoga informasi ini membantu temen-temen yang ingin menapaki jalan yang sama dengan saya.
Mohon maaf sebelumnya kalo postingannya sepi foto.

Ya keleeeeuusss foto-foto pas ujian,, di Jepang pulaaaa
Ga mungkiiiiiiiinn laaaaaahh

Hahahaha
CU in my next post!
Foto ini diambil tepat setelah selesai ujian. Di depan rumah sakit Kobe University. Di balik coat masih pake blazer tuh, sayangnya uda ngga betah pake heels sehingga buru2 langsung ganti sneakers ;)

Pertama kali ke Kobe Eki ;)
Teman-teman Lab yang banyak membantu saya ;)

You Might Also Like

0 comments

Tinggalkan pesan manismu disini yah..... =)
Yang ninggalin pesen sama manisnya ma yang nulis blog...
hahaha

Follow me on Instagram

Instagram

Share it!