LPDP and me: Secuil Pengalaman Seleksi (Part.2)

7:52:00 AM

Kembali lagi!
Kali ini jaraknya nggak terlalu lama antar post, biar feelnya tetep ada. Saya akan kembali berbagi pengalaman dengan teman-teman mengenai beasiswa LPDP. Saya menyusun post ini berdasarkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya terima dari teman-teman. Semoga bisa membantu dan menginspirasi.



Short summary yak:
Saya daftar LPDP pada periode ke III tahun 2015 (deadline pengumpulan berkas akhir bulan Juli). Kemudian pengumuman hasil seleksi berkas saya terima pada tanggal 6 Agustus 2015 melalui email. Email ini saya terima lengkap beserta lampiran jadwal tes dan petunjuk pencetakan kartu peserta. Kini saya akan berbagi sedikit pengalaman saya menghadapi seleksi kedua ini!

Seperti posting sebelumnya, saya akan menjelaskan mengenai seleksi ini langkah demi langkah, what to do and how to do berdasarkan pengalaman saya:

  • Buka lampiran di email dan cek jadwalmu!
Dalam lampiran ini sudah lengkap informasinya. Mulai dari kelengkapan berkas, pakaian, pembagian kelompok hingga detil jadwal seleksinya (jam berapa harus melakukan apa). Sekali lagi SANGAT DETIL. Jadi perhatikan baik-baik karena semua info ada disitu. 
Informasi jadwal, pembagian kelompok, dan segalamacamnya lengkap dalam satu tabel. Perhatikan baik-baik!

Kemudian cermati jadwalnya. Pihak LPDP akan mengirimkan jadwal yang sangat detil dari tiap-tiap item seleksi. Seleksi biasanya dijadwalkan selama beberapa hari (biasanya 3 hari), tapi kita tidak harus hadir di setiap tanggal, cukup mengikuti jadwal seleksi kita sendiri, kapan harus melakukan apa. Biasanya jadwal diatur berdasarkan kelompok-kelompok kecil. Perhatikan dengan baik nama kita masuk grup apa pada seleksi apa dan pada jam berapa. Ada 4 hal penting yang harus anda lakukan: verifikasi berkas, tes wawancara, tes LGD (Leaderless Group Discussion), dan tes Essay on the spot, semuanya akan dikelompokkan dan dijadwalkan secara detil. 

Saya sendiri waktu itu mendapat jadwal verifikasi berkas paling pagi di hari pertama jam 8 pagi, rentang waktu yang disediakan untuk verifikasipun sudah jelas. Untuk verifikasi berkas diberikan waktu sekitar 1,5jam (kalo ngga salah), jadi jangan terlambat dan pastikan anda mengerjakan hal itu di dalam rentang waktu itu. Selanjutnya jadwal saya adalah wawancara, alokasi waktunya pun jelas dari jam berapa hingga jam berapa, hanya saja waktu itu saya mendapat masalah saat verifikasi berkas, sehingga saya terlambat untuk wawancara. Untungnya jadwal saya bisa ditukar dengan orang yang diwawancarai berikutnya (seharusnya saya diwawancarai pada urutan pertama, namun saya ditukar jadi yang kedua). Ini juga harus diperhatikan untuk temen-temen, usahakan jangan mepet-mepet jadwal, karena ada kemungkinan jadwal kita ditukar-tukar oleh panitia, yang tadinya dapet urutan kedua menjadi urutan pertama, atau sebagainya. Walaupun perubahan jadwal itu tidak akan drastis, misalnya jadwal kita pagi, ditukar jadi keesokan harinya.  Ingat, jangan jam karet ya, ayo mulai rubah kebiasaan jelek kita. 

Wawancara saya selesai 40 menit, setelah itu jadwal saya adalah Essay on the spot, dilanjutkan dengan LGD. Beruntungnya saya, semua poin seleksi saya dijadwalkan di hari yang sama sehingga saya hanya perlu datang hari itu saja. Antara Wawancara dengan Essay ada jeda waktu sekitar 3 jam, sehingga saya bisa bersantai dan pergi makan siang dulu sebelum kembali ke lokasi tes. Untuk LGD, usahakan datang jauh sebelum jadwal, karena akan berguna dalam LGD. Nanti akan saya jelaskan. Yang pasti, pahami secara detil jam seleksi kita masing-masing dan perhatikan pada kelompok mana kita akan menjalani tes (terutama untuk LGD dan Essay)
  • Siapkan segala macam berkasnya
Di dalam email sudah dijelaskan dengan sangat jelas apa saja berkas yang harus dibawa. Jadi, persiapkan dengan baik. Bila ada dokumen yang hilang, pastikan anda membuat surat kehilangan. Perhatikan dokumen apa saja yang harus dibawa. Pengalaman saya, ada beberapa dokumen yang tidak perlu diupload saat mendaftar, tapi wajib dibawa saat verifikasi dokumen, misalnya SKCK, bukti korespondensi dengan profesor, dsb tergantung dengan jenjang yang akan kita tempuh. Dan ingat, dokumen yang diminta adalah dokumen asli, so, persiapkan dengan baik. Dokumen tersebut nantinya tidak akan diminta, hanya akan di verifikasi aja, jadi jangan khawatir.

Dan jangan lupa untuk nge-print kartu peserta dan papan nama untuk LGD. Cara ngeprint sudah ada di dalam lampiran email yang kita terima, jangan khawatir.

  • Berdoa yang banyak, dan bersiap berangkat!
Ini adalah tahap yang penting, jadi siapkan diri secara jasmani dan rohani. Sebab keputusan sesungguhnya ada di tangan Nya.

Okay, kita lanjut ke seleksi tahap II ini.
Ingat, dalam seleksi tahap II ini, ada 4 hal penting yang harus anda lakukan: verifikasi berkas, tes wawancara, tes LGD (Leaderless Group Discussion), dan tes Essay on the spot. Disini saya akan membagi pengalaman di tiap-tiap poin tes yak. Ini hanya berdasarkan pengalaman saya lho, bukan tips and trick apalagi petunjuk resmi.

Verifikasi berkas
Saran saya, usahakan hadir seawal mungkin. Karena saya cukup kaget ketika sampai disana, banyak sekali yang sudah mengantri untuk verifikasi. Ternyata, banyak juga teman-teman yang sebenernya dapat jadwal yang lebih siang, tetapi mereka hadir lebih awal supaya dapat segera melakukan verifikasi. Walaupun, teman-teman yang sesuai dengan jadwal akan didahulukan. Saya sempat mengantri cukup lama yang saya habiskan sambil ngobrol dengan teman-teman yang sudah berpengalaman, sebelum akhirnya mendapat line khusus karena jam tersebut memang jadwal saya.

Di meja verifikasi, nanti dokumen kita akan dicek, dan kartu peserta kita merupakan ceklist-nya. Jadi jangan sampai lupa ngeprint kartu pesertanya. Pengalaman saya, banyak teman-teman yang surat pernyataannya tidak sesuai dengan format, sehingga mereka harus menambahkan poin yang kurang dengan tulisan tangan. Kalau kasus saya sendiri adalah soal ijazah magister, karena saya menggunakan ijazah profesi untuk menggantikan ijazah magister ini. Sempat timbul masalah, tapi akhirnya saya diperbolehkan melanjutkan seleksi, walaupun ceklist ijazah magister dalam kartu peserta saya akhirnya tidak di centang...

Pada waktu saya seleksi, kondisi ini masih diperbolehkan, namun sebaiknya dicek kembali ke pihak LPDP, apakah penggunaan ijazah profesi masih diperbolehkan, daripada nantinya menimbulkan masalah seperti saya :D hehehe

Kartu Peserta. Di sebelah kiri adalah bagian ceklist berkasnya. Keliatan kan yang ngga dicentang?
FYI: Di Jepang, pendidikan dokter yang diakhiri dengan pendidikan profesi dengan total durasi sekolah 18 tahun sudah dianggap setara dengan magister, sehingga lulusan dokter boleh langsung melanjutkan program doktoral tanpa mengambil magister. Peraturan ini masih berlaku pada tahun saya mendaftar, dan peraturan ini berlaku di Jepang, saya tidak tahu untuk negara lain.

Tes Wawancara
Ini bukan yang pertama kalinya saya harus menjalani tes wawancara untuk program sejenis ini. Saya beberapa kali mendaftar program pertukaran pelajar ke luar negeri namun terganjal karena seleksi wawancara. Sehingga ini menjadi tes yang membuat saya paling takut. Saya disini bukan memberikan tips n trik ttg pertanyaan apa yang akan ditanyakan sewaktu wawancara, bagaimana menjawabnya, tetapi saya ingin lebih banyak memberikan esensi yang saya terima dalam tes wawancara ini. 

Yang jelas tes ini dilakukan untuk mengetahui karakter kita. Siapa kita, apa tujuan kita, apa kekuatan kita, apa kelemahan kita, apa rencana konkrit kita, dan sebagai macamnya. Tes ini juga untuk melihat tingkat kepercayaan diri kita, kemandirian kita, kemampuan kita dalam menghadapi masalah, dan yang penting adalah melihat kontribusi kita untuk negara. Pewawancara akan kembali mengevaluasi apa yang kita tulis dalam esay. Ingat, selalu ingat apa motivasi kita, cita-cita kita seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, karena hal ini termasuk yang akan di evaluasi oleh pewawancara. Konsisten ya.

Pertanyaan yang saya dapatkan seputar tujuan universitas saya, apa alasannya, mengapa harus disana, apa rencana setelah lulus, tidak lupa pertanyaan yang lebih ke arah personal, seperti pengalaman yang paling menyedihkan, sejauh mana kemampuan kita dalam mengatasi masalah (coping mechanism), seberapa siap kita dengan cultureshock dan hidup merantau. Yang nggak kalah seru dibahas adalah pengalaman organisasi, terutama organisasi sosial. Wawancara saya berlangsung kira-kira 35-40 menit. Suasananya santai tapi tetap formal. Banyak diselingi candaan dan tawa. Untungnya wawancara saya ngga neko-neko. Karena ternyata banyak teman saya yang bercerita bahwa sewaktu wawancara sempat diberi "tugas" yang cukup diluar dugaan seperti membacakan Pancasila dalam bahasa asing, menyanyikan Indonesia Raya, dan sebagainya.

Oiya, jangan lupa, wawancara dilakukan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Beberapa pewawancara akan tetap menggunakan bahasa Inggris meskipun pilihan Universitas kita bukan di luar negeri. Proporsi pertanyaan yang dilontarkan dalam bahasa Inggris juga beragam, tidak sama proporsinya bagi tiap pewawancara. Dalam wawancara saya, saya hanya mendapatkan satu pertanyaan dalam bahasa Inggris, tapi jawabannya cukup panjang. Kira-kira 20% dari proporsi waktu wawancara saya. So, persiapkan bahasa Inggrismu (dan bahasa asing lain yang kita sanggup) dengan baik ya!

Essay on the Spot
Melihat judulnya saja pasti langsung tahu bagaimana cara kerja tes ini. Yep, kita diminta untuk menulis essay dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Nantinya kita akan diminta memilih satu tema untuk kemudian kita "kritisi" dalam bentuk tulisan. Tes ini akan melihat bagaimana pola pikir kita, karena pola pikir kita nanti akan langsung terbentuk dalam tulisan kita. Orang yang suka menulis, menganalisis, akan memulai tulisannya dalam bentuk segitiga terbalik, dari ide yang general mengerucut ke permasalahan, dan akhirnya ditutup dengan kesimpulan. Orang yang tidak terbiasa menganalisis atau menuangkan pikiran, pola tulisannya akan kacau, dan sulit untuk dicerna poin-poinnya yang ujung-ujungnya tidak jelas makna tulisannya dan ini menggambarkan pola berpikir. Saya sendiri ngga tau tulisan saya seperti apa di mata orang lain, tapi kira-kira itu yang bisa di evaluasi dari tes ini. Tes ini memakan waktu yang cukup singkat, sehingga bila kita berpikir abstrak, maka akan sangat sulit membuat tulisan yang rapi, terstruktur dalam waktu sesingkat itu. Intinya, tulisan kita harus menunjukkan pola pikir kita dalam menanggapi suatu problema (tema) yang dihadapkan pada kita.

Tes ini berlangsung sekitar 30 menit seingat saya, sebelumnya akan diberikan kertas berisi 2 tema yang berbeda masing-masing satu paragraf. Kemudian kita memilih salah satu temanya, dan menulis di secarik kertas yang disediakan. Bagaimana kita mengungkapkan opini dan isi pikiran kita, disinilah kita akan diuji.

Leaderless Group Discussion (LGD)
Sejujurnya saya kurang familiar dengan metode ini. Saya taunya Focus Group Discussion, sehingga kalo mendengar LGD ini jadi ngga bs membayangkan seperti apa seleksinya. Saya sempat blogwalking di beberapa blog para awardee LPDP dan para pendaftar LPDP yang sudah pernah melewati proses seleksi ini. Beberapa blogger menekankan beberapa poin yang serupa sehingga saya simpulkan poin ini sebagai hal yang paling krusial, diantaranya adalah: pentingnya mengutarakan ide yang "outside the box", berbicara seperlunya, jangan mendominasi diskusi. jangan ada debat kusir, dan tampilkan solusi sebagai kelompok. Kayak apa sih seleksinya?

Yang jelas seleksinya berupa diskusi kelompok. Tiap kelompok jumlah anggotanya bisa 8-11 orang. Disini setiap orang berperan menjadi seorang ahli. Panitia akan memberikan secarik kertas berisi permasalahan yang akan dibahas, dan menjelaskan aturannya. Panitia juga akan memberikan secarik kertas untuk masing-masing anak untuk coret-coret ide, dan secarik kertas tiap kelompok untuk menuliskan simpulan. Well, dari sini mulai jelas tujuannya, bahwa diskusi ini harus menghasilkan suatu solusi.

Menurut analisis saya (berdasarkan pengalaman saya nih, boleh ngga percaya kok), seleksi ini akan memperlihatkan dinamika kita dalam kelompok. Seseorang individu yang berkualitas adalah individu yang tahu bagaimana menempatkan dirinya, termasuk menempatkan dirinya dalam diskusi tanpa ketua. Harus tahu kapan mengutarakan pendapat, bagaimana caranya, memperhatikan hak-hak orang lain dalam mengutarakan pendapat, dan yang terpenting berorientasi pada solusi. Hindari perdebatan yang tiada akhir. Ingat, kita di setting sebagai ahli yang mendiskusikan penyelesaian sebuah masalah. Beberapa orang mengatakan supaya jangan mendominasi, memang benar, kalo kita memaksakan peran sebagai ketua, artinya kita ngga bisa menempatkan diri. Ya kan? Ingat juga bahwa berdebat ngga akan menyelesaikan masalah. Kalo memang kita menguasai topik permasalahan yang diambil, boleh lah bikin ide-ide seru, tapi kalo nggak familiar juga jangan memaksa dengan ide-ide yang "terlalu outside the box". Pesen saya sih cuma satu: tau diri dan bawakan dirimu dengan baik!

Sebelum tes kali ini, ada baiknya kita mengenali temen-temen satu kelompok LGD ini. Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, bersiaplah untuk seleksi ini jauh sebelum waktu seleksinya. Jadi ada kesempatan untuk "ngumpul" sama teman satu kelompok LGD. Selain bisa berbagi info tentang pengalaman seleksi sebelumnya, sekaligus menyiapkan strategi. Salah satu teman saya ada yang sudah pernah mengikuti seleksi ini sebelumnya, jadi kami banyak dapet arahan dari teman saya tersebut. Dan yang paling penting, nambah temen!

Foto ini diambil setelah seleksi LGD kami berakhir. Alhamdulillah, saya dan tiga orang dikiri saya, dan yang jongkok didepan saya berhasil lolos seleksi. Dan sampai sekarang kami masih kontak via grup WA (saya yang paling kanan)

Yaaak!
Setelah rangkaian ini berakhir, yang tersisa hanyalah DOA, DOA, DAN DOA. Ingat, kesuksesan kita tetap ditentukan oleh-Nya.
Bagi yang muslim, jangan lupa tahajjud, sholat dhuha, dan berdoa yang banyak-banyak. Saya sampai bernadzar demi kesuksesan seleksi ini. Nanti akan tiba sebuah email yang akan mengubah hidupmu. Dan, alhamdulillah saya lolos seleksi :)

Bagaimana?
Semoga tulisan ini menjawab pertanyaan teman-teman dan menginspirasi teman-teman!

You Might Also Like

4 comments

  1. Halo Mbak Indy, salam kenal saya Abdul Karim. Mau nanya mbak, apakah materi tes LPDP untuk program magister sama dengan program doktoral? Makasih mbak :D

    ReplyDelete
  2. Halo Mbak Indy, salam kenal saya Abdul Karim. Mau nanya mbak, apakah materi tes LPDP untuk program magister sama dengan program doktoral? Makasih mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh yang saya tahu, materi tesnya sama untuk semuanya. Karena LPDP lebih mementingkan karakter dalam menentukan seorang berhak menerima beasiswa atau tidak

      Delete
  3. Butuh IELTS tinggi untuk keperluan akademik, professional & imigrasi?
    Kami menyediakan program kilat, yaitu GARANSI IELTS 7.5 dalam 4 bulan. Berpengalaman lebih dari 14 tahun, satusatunya di Indonesia yang memiliki program GARANSI IELTS 8.0 & score internasional dari 4000 alumni kami merupakan yang paling spektakuler di Indonesia. 08787 8787 190

    ReplyDelete

Tinggalkan pesan manismu disini yah..... =)
Yang ninggalin pesen sama manisnya ma yang nulis blog...
hahaha

Follow me on Instagram

Instagram

Share it!