A Kid on the Train: Secuil pengalaman dan renungan untuk kita

9:31:00 PM

Pgn ngepost singkat aja. Ini pengalaman yg saya alami baru aja ketika dalam perjalanan dari Surabaya menuju Jogja. Karena sdg krisis moneter dan prioritas keuangan berada di tempat lain, akhirnya saya pilih perjalanan menggunakan kereta ekonomi. Lain dg kereta ekonomi dulu, kereta ekonomi yg sekarang sudah lebih baik secara fasilitas: menggunakan AC, duduk sesuai tiket, orang2 nampak teratur, hal ini berimbas pada suasana kereta yg relatif terlihat bersih dan kondusif. Selain itu kereta ekonomi yang dulu digadang2 sering ngaret, untuk jarak menengah dan jarak jauh sekarang keterlambatannya sudah mulai berkurang. Memang berat ketika proses transisi menjadikan kereta ekonomi seperti ini, banyak pemrotesan dan halangan, tp toh pada akhirnya bisa lho. Basically, orang Indonesia itu bisa lebih baik, kalau mau diatur. Bravo untuk PT. KAI!

Hanya introduksi aja, kisah yg ingin saya ceritakan sesungguhnya adalah seorang anak kecil yg duduk di hadapan saya. Seorang anak perempuan usia playgroup-TK (sekitar3-4th) yg duduk diapit kedua orangtuanya dihadapan saya (kereta ekonomi layout duduknya masih berhadapan). Awalnya saya cuek aja, karena saya ngga begitu suka anak2 dan masih awkward dg makhluk yg namanya anak2. Tetapi satu dua adegan dalam keluarga kecil tsb membuat saya risau dg kualitas generasi Indonesia.

Awalnya saya senang dg anak tersebut. Anak tersebut ramai dan lincah, berhubung background saya seperti itu, kalau melihat anak2 semacam ini saya merasa senang, karena artinya tumbuh-kembang anak tersebut sesuai umurnya. Anak itu excited melihat pemandangan, melihat orang2, memang agak cerewet, tp ngga rewel, lumrah anak2 lahh.

Tapi lama kelamaan saya perhatikan, anak tersebut bicara dg kalimat yg (agak) kasar terhadap kedua orang tuanya. Anak tersebut mulai bersikap manja minta ini dan itu pada org tuanya. Lumrah sekali kalau anak pertama manja sekali thd orgtuanya, yg menjadikan concern saya adalah bahasanya ketika si anak ini minta makan, minta benda, minta diberikan sesuatu kepada orangtuanya. Dasarnya saya memang orang jawa, melihat anak bicara dg bahasa yg seharusnya dipakai ketika bicara dg org yg lebih muda atau seumuran, saya merasa annoyed (anak ini bicara dalam bahasa jawa ngoko jawa timuran). Ternyata, setelah saya amati, kedua orangtuanya berbicara dg bahasa ngoko (bahasa jawa yg paling rendah tingkatannya) kepada anak tersebut. Menurut saya, anak tersebut tidak tau tatacara bicara yg baik karena orangtuanya bicara kepadanya dalam nada yang (menurut saya) kurang hormat, sehingga rasa penghormatan anak tersebut terhadap lingkungannya jadi seperti itu. Yg lebih bikin saya annoyed adalah ketika si anak bicara dg uti dan kakung-nya (nenek dan kakek) di telepon. Berteriak2 itu lumrah, tp jd kurang menyenangkan jika kalimatnya terkesan tidak hormat. Memang benar, kualitas seorang anak ditentukan oleh didikan dan lingkungan keluarganya.

Bagaimana Indonesia bisa maju jika anak2nya masih kurang sadar dengan lingkungannya. Saya jadi nggak heran kalau saya lihat junior2 saya sekarang berperilaku kurang hormat, tidak peduli lingkungannya, dan sebagaimacamnya. Jika kita ingin menaikkan kualitas sumberdaya manusia, memang kita harus mulai dr masa kanak2. Pembentukan karakter dan segala macamnya memang dimulai sejak dini sekali. Bahkan perilaku sekecil apapun yang dirasakan si anak pada masa kecilnya, bisa membentuk karakter anak itu hingga dewasa. Saya rasa ini adalah tugas penting orangtua, terlepas orangtua itu msh muda atau sudah tua, berpengalaman atau tidak, org tua hrs membekali dirinya dg pendidikan anak sebelum mereka membesarkan seorang anak. Orang tua juga harus ingat bahwa si anak ini tidak akan menjadi anak selamanya, dia akan menjadi individu yang lain, orang lain. 

Yang kedua adalah sesuatu yg membuat saya terperanjat. Saya sedang setengah tertidur, ketika saya terbangun, si anak sudah duduk dipangkuan ayahnya, tepat dihadapan saya. Si anak menoleh ke jalan tengah (tempat orang lalu lalang ditengah gerbong) dan tiba-tiba si anak meludah ditengah jalan tersebut! Si anak sedang tidak batuk, sehingga meludahnya dia bukanlah tindakan untuk mengevakuasi dahak atau apa. Saya sampai heran kenapa si anak berbuat seperti itu. Perbuatan si anak ini hampir mengenai kaki penumpang yang duduk di seberang jalan tengah! Sontak saya kaget. Untunglah si bapak yang kakinya hampir terkena ludah tidak marah (dan diam saja). Tapi yg lebih bikin saya kaget adalah si ayah yg menyaksikan perilaku anaknya, tapi dia memilih diam. Tidak menegur anaknya, tidak menanyakan alasan mengapa si anak melakukan hal tersebut, dan tidak pula mengambil tindakan bertanggungjawab atas tindakan anaknya tersebut (misalnya minta maaf sama si bapak di seberang jalan dan atau membereskan ulah si anak yang mengotori kereta). Sayang si ibu tidak perhatikan perilaku anaknya itu. Memang ludahnya nggak seberapa banyak dan kemudian hilang krn terinjak penumpang yg lalu lalang. Begitu sadar ludahnya sudah bersih, si anak kemudian sekali lagi meludah kearah jalan! (kali ini sepertinya si ibu liat) dan sekali lagi orangtuanya tidak bertindak apa2! Padahal saya yakin bukan hanya saya seorang yg melihat kejadian tersebut. 

Saya kemudian bertanya, bgmn anak ini akan membawa Indonesia? Anak ini bahkan selain tidak mengerti tata krama, anak ini juga tdk punya nilai yg seharusnya ditanamkan sejak kecil, seperti nilai menghargai, kedisiplinan, keteraturan, nilai benar dan salah juga masih kabur. Saya heran bagaimana anak ini di didik. Saya cukup sakit hati melihatnya. Secara saya ini penggemar fasilitas publik, dan saya sendiri berusaha memanfaatkan sambil menjaga fasilitas publik apapun yang saya gunakan. Tapi ternyata masih ada (bahkan mungkin masih banyak) orang yang tidak peduli, bahwa meskipun kereta ini murah, hanya kelas ekonomi, tapi fasilitas ini merupakan milik publik yang harus dijaga. Menurut saya tidak ada alasan yang membenarkan tindakan merusak fasilitas publik seperti itu. dan nilai ini ternyata tidak diajarkan oleh orangtua ini kepada anaknya. Saya tidak berharap melihat anak ini dimarahin, saya hanya ingin melihat orangtua anak ini menanyakan "kenapa" si anak harus berperilaku seperti itu, kecuali jika si orangtua tadi beranggapan bahwa "tidak ada yang salah dengan meludah di dalam gerbong kereta"

(Dan ternyata memang benar, si orangtua membuang sampah seenaknya saja dibawah kursi duduk mereka. Tidak ada yang salah dengan mengotori kereta menurut mereka. Padahal jika anda tahu, kereta ekonomi biasanya menyediakan tong sampah di dekat pintu masuk arah depan di tiap gerbong)

Mungkin saya terlalu banyak nonton tayangan reality show The Superman Return dari Korea yg menayangkan polah anak-anak publik figur yang diasuh oleh ayah mereka. Tapi dari tayangan itu saya menyadari berbagai macam hal tentang mendidik anak. Anak-anak dalam tayangan itu sudah diajari kata "tolong" dan "terimakasih" sejak dini sekali. Orang tua mereka juga selalu bicara dengan level yang sama dengan anak-anak mereka, termasuk dengan menggunakan bahasa yang sopan ketika berbicara dengan anak mereka. Ada pula orang tua yang mengajarkan reward and punishment, sehingga anaknya sangat teratur (lihatlah si Triplet putranya Song Il Gook). Dalam tayangan itu ada sepasang anak kembar dan triplet yang sejak kecil sudah dididik nilai berbagi dengan saudara-saudaranya. Setiap kali melakukan kesalahan, sang ayah selalu menanyakan "mengapa" dia bertindak seperti itu. Dari sini sang ayah dapat memahami perilaku anaknya sambil memberi pengertian pada anaknya apa yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk. 

Sebenarnya kalo kita sering mengamati film-film negara maju, seorang ibu selalu kelihatan seperti itu, bicara satu level dengan anaknya, tidak ragu dengan kata "tolong", "maaf" dan "terimakasih", selalu ada reward and punishment dan sebagainya. Coba deh perhatikan film Amerika, Korea, dan Jepang (favorit saya sih tiga negara maju ini, hehe). Rata-rata perilakunya seperti itu. Kurang lebih menggambarkan bagaimana lingkungan sosial mereka. Nggak heran deh kalau bangsanya jadi maju dengan sumberdaya manusia yang seperti itu.

Terlebih lagi di negara Jepang, jika kita tahu, sekolah tingkat TK-SD di Jepang tidak pernah menekankan pada pelajaran seperti matematika, IPA, IPS dan sebagaimananya. Kurikulum pendidikan dasar mereka lebih banyak dihabiskan untuk mempelajari fundamental bangsa (termasuk sejarah, filosofi, dan pelajaran Kanji), nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, kebersamaan dengan teman sekelas, juga gotongroyong (tau kan piket diakhir jam pelajaran sekolah?). Beda dengan di negara kita yang semuanya diukur dengan rapor, nilai berupa angka, yang lebih berat ke pendidikan akademis dibandingkan moral dan sikap. Bahkan di Jepang, keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak juga dilihat misalnya dengan adanya hari kunjungan orangtua ke sekolah, sesi konseling orangtua, hari olahraga dimana orangtua diundang, dan sebagaimacamnya. Sekolah kita di Indonesia memang sudah punya sistem seperti itu, sayangnya tidak didukung dengan SDM yang mengerti fungsi sistem tersebut. Kita cenderung melanjutkan "tradisi" yang sudah terbentuk. Terus kapan kita maju kalo cuma mengekor atas nama tradisi?

Saya rasa ini pesan utk semua orgtua yg membesarkan anaknya di Indonesia. Memang hal yg baik jika anak kita pintar secara akademis, sopan santun, lincah, dsb yg secara individu adalah hal yang sangat baik. Tp alangkah baiknya jika anak-anak kita juga memiliki softskills, memiliki nilai-nilai yang baik terhadap lingkungannya, terhadap apa yang menjadi milik publik. Menghargai tempat publik, menghargai kepentingan publik, punya rasa memiliki terhadap lingkungan, sehingga dia akan memperlakukan lingkungannya dg baik. Jgn kita fokuskan pendidikan anak hanya untuk membuat si anak hebat, akan lebih bijaksana lagi jika kita bisa melibatkan lingkungannya. Karena orang2 yg korup dan jahat pada dasarnya adalah orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungannya, tidak menghargai lingkungan dan kepentingan lingkungannya. 

Menulis ini membuat saya sadar bahwa mendidik anak adalah sesuatu yg sangat besar. Karena apa yg kita ajarkan dalam lingkungan keluarga terdekat, adalah yang paling melekat. Segala hal kecil yg terjadi di masa kecil, akan mempengaruhi masa depan. Jika kita sebagai orangtua tidak memiliki kemampuan untuk menjaga dan mendidik masa kecil seorang anak, maka pikirkanlah kembali keputusan anda dan suami utk memiliki anak.

Berikut beberapa take home message untuk kita (untuk calon ibu seperti saya juga):
  1. Ingatlah bahwa anak itu belajar semenjak dia bisa tengkurap. Si anak sudah mulai menyerap segala sesuatu yang diberikan padanya. Mulai dari kata-kata, hingga perilaku (nantinya). Tidak ada kata terlambat, tidak ada kata sudah terlanjur, seorang anak selalu dapat di didik, tinggal masalah kesabaran dan metode saja. 
  2. Ingatlah bahwa bukan orangtua versi mini! Jangan mengajari seorang anak dengan metode yang kita dapatkan dulu hanya dengan berbekal "saya dulu diajari begitu oleh orangtua saya". Jangan memperlakukan mereka seolah mereka adalah anak buah yang tidak berdaya. Setiap anak adalah individu yang unik, dy mengandung separuh gen ayah dan separuh gen ibu, bukan persis seperti ayah atau seperti ibu, dia bukan si Ayah versi muda atau si Ibu versi muda. Oiya, hal ini berlaku juga kalo anak sakit ya, anak bukan orangtua versi mini, jangan berikan obat orang dewasa kepada anak begitu saja ya (saya yakin semua dokter ingat dengan doktrin ini sewaktu di pediatri :p)
  3. Ingatlah bahwa anak belajar dari perilaku sekecil apapun di lingkungannya! Pastikan kita membesarkan anak di lingkungan yang tepat. Karena pengaruh itu akan dibawa sampai tua. 
  4. Ingatlah, mendidik anak tidak hanya untuk membuat si anak menjadi pribadi yang hebat saja. Didiklah mereka supaya menjadi hebat terhadap lingkungannya!
  5. Ingatlah, anak adalah refleksi dari orangtua. Apapun perilakunya. Seorang anak yang sukses adalah kesuksesan kedua orangtuanya.
Saya memang masih muda, belum berkeluarga dan belum berpikir ke arah sana dalam waktu dekat. Pembaca boleh beropini bahwa saya tidak punya pengalaman sama sekali. Memang benar. Tapi tidak ada salahnya anda ambil waktu beberapa saat untuk merenungkan apa yang saya tulis ini. Saya pun mulai mempertimbangkan kesiapan saya jikalau menjadi orangtua suatu hari nanti. 

Terakhir, ini hanya buah pikir saya, tidak ada maksud untuk merendahkan, menghina, atau berbuat tidak menyenangkan terhadap orang lain. Tidak ada maksud untuk menggurui juga (secara saya nggak punya pengalaman apa-apa), apalagi untuk memprotes. Ini murni buah pikir saya, boleh setuju, boleh juga nggak. Buat masukan, langsung tulis di bagian komen yaaaa

Jika anda peduli masa depan bangsa, mari belajar mendidik anak!

You Might Also Like

7 comments

  1. setuju banget. mau gimana pun keluarga pengaruhnya sangat besar dibanding sekolah. orang berpendidikan tinggi belum tentu bermoral.

    tulisanmu semakin bikin aku pengen baca2 buku parenting. emang udah waktunya ya ndy kita belajar ginian haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sndiri jd tertarik ttg parenting nih, pdhl rencana kesana masib belom adaaaa

      Delete
  2. Menarik tulisan e, secara saya baru aja punya anak umur 3 minggu.
    Jadi mikir, bisa nggak ya jadi orangtua yang baik :p
    Kalau liat orangtua kayak gitu kadang punya pikiran gimana kalau ada gitu semacam "SIM" untuk memiliki anak, jadi yang bisa punya anak itu yang udah lulus ujian atau apalah, gregetan juga. Mungkin soalnya saya juga suka nonton Daehan, Minguk, Manse, jadi ekspektasi terhadap anak2 tu ya kayak mereka. Tapi emang parenting tu kudu dipelajari terus menerus sih, hehehe

    ReplyDelete
  3. Iyaaa nih kudu jadi ibu Indonesia yg membanggakan ntar generasi penerusnya.. pola asuh dan kasih sayang terbaik yg kdu dicontoh.. ga ada yg salah belajar dri bangsa lain kalau untuk yg terbaik.. setuju Ndi ;)

    ReplyDelete
  4. Iyaaa nih kudu jadi ibu Indonesia yg membanggakan ntar generasi penerusnya.. pola asuh dan kasih sayang terbaik yg kdu dicontoh.. ga ada yg salah belajar dri bangsa lain kalau untuk yg terbaik.. setuju Ndi ;)

    ReplyDelete
  5. Iyaaa nih kudu jadi ibu Indonesia yg membanggakan ntar generasi penerusnya.. pola asuh dan kasih sayang terbaik yg kdu dicontoh.. ga ada yg salah belajar dri bangsa lain kalau untuk yg terbaik.. setuju Ndi ;)

    ReplyDelete
  6. Setuju ama tulisan nya indy, membentuk karakter seseorang dimulai sejak usia dini, sejak anak-anak. Karena kl sudah terlanjur dewasa, terbiasa dgn kebiasaan yg kurang baik, susahnya minta ampun untuk memperbaiki. Ibarat besi udah terlanjur kaku, beras udah jadi nasi.

    ReplyDelete

Tinggalkan pesan manismu disini yah..... =)
Yang ninggalin pesen sama manisnya ma yang nulis blog...
hahaha

Follow me on Instagram

Instagram

Share it!