Rurouni Kenshin the Movies: From the beginning until the Legends Ends

8:01:00 AM

Di sela kerja, ada komputer nganggur, dan ada ide bermunculan paska nonton film yang satu ini, apalagi lah yang dituju kalo bukan blog :)

source: google.com
Siapa sih anak generasi tahun 90an yang ngga kenal sama Samurai X atau judul aslinya Rurouni Kenshin? Manga atau komik yang menceritakan roda kehidupan Himura Kenshin yang disebut Hitokiri Battousai diartikan sebagai Battousai si Pembantai, yang berhenti membunuh dan mulai berperang untuk kebajikan. Serial ini merupakan serial tentang samurai yang pertama kali populer di Indonesia, bahkan mungkin dibeberapa negara di dunia. Ini serial pertama yang mengusung sejarah Restorasi Meiji di Jepang, latar belakang kisah ini adalah pada masa akhir samurai atau Bakumatsu. Serial ini pula yang mengawali rasa penasaran banyak orang terhadap sejarah Restorasi Meiji, disamping tentang kehidupan samurai di Jepang.

Saking populer dan melegendanya, serial ini kemudian diangkat menjadi anime, dan yang terakhir serial ini akhirnya diangkat ke layar lebar! Setelah penantian panjang, akhirnya serial legendaris ini diangkat menjadi film. Rasa takut akan kecewa ketika suatu serial komik favorit diangkat ke sebuah film pastilah ada, tapi untuk serial ini, saya akui bahwa saya ngga terlalu kecewa. Why? Here we go:

Rurouni Kenshin


Pertama film ini muncul, lumayan kaget juga dengan pemilihan CAST nya. Bayangin aja Takeru Satoh yang biasa bermain sebagai karakter yang biasa2 aja (Bloody Monday, Q10, BECK, Mei-chan no Shitsuji), kadang bahkan dapet peran yg aneh (Kamen raider Den-O), mendadak skrg dapet peran yang begitu legendaris. Sempat khawatir Satoh bakal main jelek, ternyata ENGGAK.


The CAST:
Himura Kenshin digambarkan sebagai orang yang kecil, ceroboh, tapi permainan pedangnya cepat dan lihai. Ternyata Takeru Satoh bisa membawakan image itu. Badannya emang kecil, tampangnya juga kaya orang bloon gitu (Kenshin kan rada ceroboh gt ceritanya), kadang di scene dimana dia harus keliatan serius masih kurang kelihatan garang, tapi di scene fighting, AWESOME abis. Menurut saya he worked really hard for this and it pays. Saya ngga bisa membayangkan cast yg lebih baik dr dia. mungkin kalo bukan dia, bisa jadi kualitasnya jauh lebih buruk.

Image kerennya ngga sesuai dengan komiknya
 (source: google.com)
Cast untuk Kamiya Kaoru juga pas. Emi Takei bisa mewakilkan wajah dan aura yang soft sekaligus strong. and she is typically Japanese woman. Kesan Kaoru terwakilkan olehnya. Pemeran Takani Megumi juga pas. Misterius dan anggun. Tapi sekaligus kelihatan galak. Dan typically japanese doll juga nih. Pemeran Yahiko juga lumayan. The rest of the cast in this first movie is good too.

Yang menurut saya fatal parah adalah cast untuk Sagara Sanosuke. WHAT THE HELL?? Sagara emang digambarkan liar dan kumel, tapi ngga segitunya juga kaliiiii.

the Story
Udo Jin-e, the villain
(source: google.com)
Gambit, Xmen comic
(source: google.com)
Saya cukup suka dengan kisah di film pertama ini. Karena dia mengambil poin yang penting dari komik. Yaitu pertemuannya dengan Kaoru, Yahiko, sampai pertemuan dengan Megumi Takani, Sanosuke dan Saitou. Musuh yang diangkat di seri ini juga musuh yang cukup legendaris di komiknya pada jaman itu (si musuh yang bentuknya mirip Gambit dari Xmen itu lhoo, sama Takeda Kanryuusai si pedagang Opium). Jadi menurutku okelah, walaupun tetap cliche, melawan pedagang opium, kemudian kekasih hati jadi tawanan. Biar cliche tapi sejalan ama komiknya dan sejalan dengan sejarah Jepang.

Karakter Kenshin sendiri disini cukup dieksplor. Kenshin yang lugu, ceroboh, lucu, tapi disatu sisi begitu sangar. Kemudian pola pikir dan masa lalu Kenshin yang menjadi titik pusat kisahnya juga diceritakan. Terus terang saya suka beberapa adegan seperti adegan saat makan di resto waktu pertemuannya dengan sanosuke, kemudian adegan saat kenshin di dalam penjara, dan tetntu saja flashback masa lalunya. That tells a lot.

Setting jepang masa lampau yang dipake juga bagus. Pernah nonton drama dr.Jin yang sekarang ada versi Koreanya itu? Menurut saya setting di film ini nampak nyata seperti di drama dr.Jin yang menurut saya settingnya bagus dan sangat menggambarkan era bakumatsu. Terlebih lagi, kebudayaan Jepang, kehidupan orang Jepang jaman dulu, digambarkan cukup apik di film ini.

Yang pasti adegan fightingnya, cool abis.

Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno
Ini adalah seri yang paling saya suka! Why? Here we go:

The CAST
Kyoto Inferno's cast (source: google.com)
Mereka ngga main2 dalam memilih cast untuk musuh legendaris Himura Kenshin kali ini. Siapa ngga kenal Makoto Shishio yang jahat beserta Juppongatana-nya?? Untuk menghidupkan peran Shishio yang jahat, mereka memasang Tatsuya Fujiwara. Who doesn't know him?? Fujiwara yang terkenal untuk peran2 sadis, psycho, thriller seperti perannya di Battle Royale, Death Note (Yagami Light), The Incite Mills, walaupun ngga selalu perannya sebagai karakter yg kayak gitu, tapi dalam memerankan tokoh jahat/psycho/gila itu dia uda mumpuni lah. Walaupun mukanya dia cuma dikeliatanin di beberapa scene aja, tapi aktingnya tetep keren.
Juppongatana (The Ten Blades)
(source:google.com)

Soujiro Seta (source: google.com)
Bagaimana dengan Juppongatana Member? Siapa yang ngga kenal dengan si bocah ganteng yang selalu tersenyum, Soujiro Seta? Si bocah yang gesit itu diperankan oleh bocah yang amazing juga, Kamiki Ryuunosuke. Melihat wajahnya pasti para penyuka dorama merasa familiar. Yup, drama dan film yang dipernakan oleh dia udah banyak untuk seumurannya. Mulai peran protagonist (Tantei Gakuen Q), sampe peran antagonist (Bloody Monday) pernah dimainkan, dan apapun role-nya dy selalu membawakannya dengan baik. Dan untuk peran Soujiro Seta, dia membawakannya dengan baik. Wajahnya yang tipikal manis orang Jepang sudah cocok dengan image Seta. Apalagi jika anda melihatnya tersenyum, anda pasti senang melihatnya :) Saat membawakan adegan fighting pun, dy oke. Pas untuk mengimbangi si Himura Kenshin-nya Takeru Satoh.

Untuk anggota Juppongatana yang lain, saya ngga bahas detil. Menurut saya sudah cukup mirip dengan komiknya. Mulai bentuk rambut, outfit, pokoknya kayak cosplay lah.

Sementara dari pihak Oniwabanshu, saya tertarik sekali dengan peran Misao Makimachi. Menurut saya castnya cocok sekali dengan image Misao yang lincah. Menurut saya, peran Misao dan kakek Okina sudah pas.


Walaupun terkesima dengan beberapa cast, ada beberapa cast yang sangat saya benci sampe rasanya mata ini mau rusak ngeliatnya. Fantasy dan imaginasi saya tentang karakter itu kemudian runtuh. Siapa lagi kalo bukan karakter the Ogashira, Aoshi Shinomori.
Aoshi Shinomori
(source: google.com)

OMG.

Siapa gadis manis pecinta serial Samurai X yang ngga kesengsem sama si Aoshi yang cool. Wajahnya cool, rambutnya cool, bajunya, coatnya, bahkan senjatanya pun cool abis. Saya dulu benar2 pecinta Aoshi sampe2 kalo ntn Anime nya pasti meneriakkan namanya tatkala dia muncul. Eh, kok ternyata cast yang dipilih justru pria tua dengan potongan rambut ala Alam "Mbah Dukun" itu????apa kita sedang melihat Aoshi yang sama kah wahai cast director?????  Yah walaupun si actor ini emang sudah mumpuni di film2 beginian.......

Selain Aoshi saya juga merasa annoyed dengan karakter Komagata Yumi dari genk Shishio. Dia harusnya menjadi satu-satunya cewek di genk Shishio yang licik, slicky, yet sexy. Tapi castnya tuh ngga cucok sama kesan itu. Apalagi di film ini karakter Yumi ini ngga terlalu di eksplor seperti di komiknya.

Oiya, satu lagi. Mana Kamatari Honjo?? My fave villain. yg plg mnarik mnurut saya. Tapi kok disini mlh g muncul?? Atau ngga mirip smpe ngga kliatan?

The STORY
Saya suka cerita film yang kedua ini, karena si pembuat kembali menggambarkan Kenshin sebagai Pengembara alias Rurouni sesuai dengan titelnya. Perpindahan suasana dari kota Edo (Tokyo) ke Kyoto yang pada jaman itu masih menjadi semi-ibu kota kelihatan menarik. Pertemuannya dengan Misao Makimachi juga cukup menarik. Mengenai Oniwabanshu juga, kecuali saat kemunculan Aoshi, dimana saya benci setengah mati. Perubahan sikap Aoshi yang jahat juga ngga tergambarkan dengan baik, jadi menurut saya itu agak aneh.

Kemunculan Shishio engga semengerikan imajinasi saya, tapi cukup lah untuk membawakan image kengeriannya. Yang jelas, kemunculan Soujiro Seta menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi ketika dia duel melawan Kenshin. EPIC.
Soujiro Seta vs Kenshin (source:google.com)

Epik dan klimaksnya menurut saya ada disaat kota Kyoto akan dibakar. Peperangan di dalamnya dan suasana kebakaran kota Kyoto cukup menarik, hanya saja, saya merasa bahwa Kyoto digambarkan kecil sekali, karena settingnya hanya itu-itu saja. Kurang menggambarkan betapa hebatnya pembakaran Kyoto. Walaupun perangnya cukup epik. Yang mengganggu adalah duel antara kakek Okina dan Aoshi. Yah walaupun duel itu ada andilnya dalam kisah di film ini dan film berikutnya, tapi menurut saya nggak keren. Sama seperti endingnya yang nampaknya kurang sesuatu, tapi saya sendiri tidak bs menggambarkan kurang apa sebenarnya.

Rurouni Kenshin: the Legend Ends
Kali ini kita ngga akan membicarakan cast dan story secara terpisah, soalnya secara garis besar, cast and story masih seperti film sebelumnya. Kali ini film ini membawakan karakter kunci lagi, yaitu Hiko Seijuro yang merupakan "guru"nya Kenshin yang akan menyempurnakan jurusnya Kenshin. Sayangnya karakter Hiko ini ngga sekeren di komiknya! Di komik kita akan melihat Hiko sebagai seseornag yang sangat powerful dan sombong. Bahkan sombong sekali seolah2 dia makhluk paling hebat di bumi. Namun saya ngga lihat karakter itu di film ini. Walaupun Hiko masih menggunakan panggilan "my stupid apprentice" kepada Kenshin, tapi kesombongan dan ke-powerful-annya seolah ngga dieksplore disini. So what's the point? kita jadi ngga bisa melihat bahwa Hiko da
Gurunya Kenshin
(source:google.com)
n jurus terakhir yang diajarkannya itu begitu deadly and powerful. Apalagi adegan2 yang menggambarkan akhir perjuangan Kenshin mendapatkan jurus itu juga ngga begitu heboh dan ngga epik. Padahal jurusnya kan epik tuh ceritanya. Hiko kelihatan seperti guru bela diri biasa dan nggak spesial. Dan kelihatannya seperti ini: Kenshin sedang lemah, dan guru mengajarinya supaya tidak lemah lagi. that's it.
Adegan mendapatkan jurus pamungkas yg kurang jelas (??)
(source: google.com)

Aoshi vs Kenshin
(source: google.com)
Pertarungan dengan Aoshi ngga bisa saya nilai secara obyektif nih disini, karena saya benci banget ama Aoshi di sini! menurut saya segala macam kemunculannya dy jadi ngga penting gitu. Padahal pertempurannya dengan Kenshin itu menjadi satu titik penting, karena Aoshi akan berpindah pihak menjadi pendukung Kenshin setelah pertempuran itu. Tapi pertempurannya jadi ngga menarik saking jeleknya si pemain itu, walaupun, as usual, the fighting choreography is perfect.

Kenshin vs Shishio the last battle
(source: google.com)
Film ketiga ini adalah film terakhir, tapi justru menjadi film yang menjadi least favorite menurut saya. Karena saya cukup kecewa dengan pertarungan terakhir. Pertama, karena Juppongatana-nya terkesan cuma jadi cameo. Saya suka sekali dengan pertempuran Anji dengan Sanosuke Sagara. Tapi di film ini pertarungannya terkesan cuma lewat. Seharusnya kan mereka terlibat dalam pertarungan fisik maupun mental tentang filosofi hidup (seingat saya gitu). Pertarungan Soujiro Seta juga singkat. Walaupun saya suka karena akting Kamiki begitu hidup untuk peran Seta. Sementara Juppongatana yang lain? Mati hanya dengan sekali sabet pedang dalam satu scene singkat, atau bahkan ngga keliatan kisahnya. Ini membuat Juppongatana kelihatan sepele. Trus yang mengerikan dari genk Shishio ini apa selain kapal perangnya yang besar itu?

Keroyokan lawan Shishio (source: google.com)
Akting Fujiwara untuk Shishio perlu saya acungi jempol. Dia bisa menghidupkan adegan sewaktu Yumi mati itu. Walaupun saya kurang setuju dengan peperangan akhir yang melibatkan Hajime Saitou, Aoshi dan Sanosuke Sagara. Ngapain Aoshi tiba2 muncul gitu? Padahal dia kan habis babak belur dihajar Kenshin dalam pertarungan sebelumnya. Kemunculan Saitou, Aoshi dan Sanosuke tuh ngga banyak membantu menghidupkan cerita. Lebih penting adegan Kenshin duel dan menggunakan jurus barunya. Kenapa mesti buang2 waktu dengan perang keroyokan, toh akhirnya matinya Shishio mati kebakar sendiri (ya ngga sih?). Well, at least matinya bukan karena team battle. Mestinya durasi filmnya dihabiskan untuk eksploring the character aja, walaupun saya tau mungkin si creator film pingin menonjolkan fightingnya yang emang keren buanggettsss
versus Sawagejo Sho the sword hunter
(source: google.com)

Satu-satunya bagian dari film ini yang saya cukup suka adalah ketika mencari si pedang pengganti Sakabato yang patah. si musuh pecinta pedang Sawagejo Cho terasa pas, begitu pula dengan plot dan fightingnya. Pas bangets dah kayak lagi baca komik shounen. Duel di sebuah shrine. Walaupun si aktor pemeran Cho ini agak kekurusan dan kurang tinggi :D

Baiklah, itu tadi opini saya. Boleh setuju boleh nggak. Walaupun menurut saya proporsi beberapa bagian cerita, terutama pada film terakhir terasa kurang pas, tapi menurut saya film Rurouni Kenshin ini merupakan salah satu produksi film terbaik-nya Jepang. Menghidupkan kisah komik menjadi live-action memang ngga mudah dan penuh tantangan, apalagi animo para fans pasti mengharapkan penampilan yang luar biasa mirip dengan komiknya, which is not that easy. Tetap perlu saya acungi jempol untuk Rurouni Kenshin ini.

Terutama untuk fighting choreography, kasih skor 98/100 deh!

Overall 8/10 deh

You Might Also Like

1 comments

Tinggalkan pesan manismu disini yah..... =)
Yang ninggalin pesen sama manisnya ma yang nulis blog...
hahaha

Follow me on Instagram

Instagram

Share it!