Jogjakarta Royal Wedding: Kirab Ageng, the Last One

8:41:00 AM

Liburan kali ini buat saya emang spesial banget. Yang pertama, saya nggak bebas berlibur di Jogja gara2 harus mempersiapkan National Exam saya bulan November nanti (everyday is study day :( ). Untungnya yang kedua agak istimewa, kepulangan saya bertepatan dengan agenda Pahargyan Ageng atau Pergelaran Besar pernikahan putri terakhir Sultan Hamengkubuwono X! Sebenernya saya bukan tipikal orang yang suka ikut2an festival kaya gini, nggak pernah saya ikutan acara2 keraton-an seperti Grebeg, atau upacara2 sejenis, bahkan saya cuma liat di TV sewaktu ada pernikahan putri sultan yang sebelumnya (GKR Bendara). Cuma, karena acara ini merupakan "yang terakhir", karena setelah ini sultan sudah ngga akan menikahkan anaknya lagi sampe generasi cucunya nanti which is masih sangat lama, dan pasti saya sudah nggak muda lagi, akhirnya hari Rabu 23 Oktober 2013 kemaren, saya nekat berangkat untuk melihat prosesi terakhir yaitu Kirab dengan persiapan minim :p

Sebelum berangkat saya cari tau dulu tentang acara ini, dimana jalan yang bakal ditutup, kemana harus parkir, dan dimana saya harus standby. Karena inti dari Kirab ini adalah iring2an kereta kencana yang membawa pengantin dan keluarga plus keluarga Sultan dan Pakualam. Meskipun dikoran jelas ditulis Kirab akan mulai jam 8.30, nyatanya saya berangkat dari rumah jam 8.30. Modal saya cuma motor, BB untuk foto2, dan buku2 untuk belajar bersama setelah nonton Kirab ini. Untungnya saya punya urusan di Stasiun hari itu, jadi saya parkir motor di stasiun. Dan ternyata banyak orang yang berpikiran sama dengan saya, untuk "menitipkan" motornya di stasiun meskipun sebenarnya jarak Stasiun sampe lokasi Kirab cukup jauh dengan berjalan kaki. Tapi hati saya sudah mantab, so here I go!

Jalan Malioboro sejak pagi sudah ditutup. Akses utama ke Jalan Malioboro ditutup, meskipun dari arah Sosrowijayan masih ada motor yang masuk (kayanya sih motornya orang Sosrowijayan sendiri). Saya suka sekali suasana sepanjang Jalan Malioboro yang lengang sekali. Semua orang berjalan ke satu arah yang sama!

Ujung jalan Maliobor yng dari arah Stasiun Tugu. Semua orang jalan kaki (termasuk saya) ke lokasi Kirab

Malioboro Mall yang biasanya padat kendaraan, sekarang padat manusia
Sisi sebelah sini memang sepi, karena Kirab direncanakan memang hanya dari Keraton, melewati alun-alun, terus sampe menuju kantor Kepatihan yang letaknya di tengah Jalan Malioboro ini. Jadi, udah kebayangkan dimana konsentrasi massa berkumpul?

Mendekati Kantor Kepatihan, suasananya? Weeww
Suasana barisan didepan kantor kepatihan. Rela manjat tiang demi melihat Kirab
Jalan dijaga oleh Polisi dan petugas 


Sebelum Kirab mulai, dari pihak kepolosian memberi peringatan yg sangat penting: "Hati2 dompet dan barang bawaan!"
Saya berdiri agak ke utara dari pintu masuk Kantor Kepatihan. Banyak sekali orang berbaris dipinggir jalan, mulai dari warga Jogja sendiri, turis domestik, sampe turis asing yang ikut masuk barisan. Untung si bule tau diri kalo dirinya tinggi, jadi para bule2 dengan tinggi menjulang itu berdiri dibarisan paling belakang.. Itu pun dy masih bisa liat dengan jelas tanpa harus jinjit seperti saya (^ ^ ;) Kondisi dekat Kantor Kepatihan pagi itu belum terlalu padat. Sementara di alun2 dan sekitarnya, beuh....bisa pingsan tergencet disana!

Yang bikin saya kaget adalah antusiasme masyarakat Jogja sendiri. Di sekeliling saya berdiri ada ibu2 dan bapak2 yang sudah tua tapi rela berdiri dibarisan tersebut lebih pagi daripada saya hanya untuk liat Kirab. Ada juga suami istri yang berbincang didepan saya, si suami bilang dia bolos kantor untuk datang melihat Kirab. Katanya, "mendingan liat Kirab daripada duduk di kantor". Dan saya juga ketemu teman SMP saya yang sudah disana sejak sebelum jam 8 pagi untuk melihat Kirab ini. Ada juga rombongan anak2 SD yang sengaja dibawa kelokasi oleh Guru mereka untuk melihat Kirab. Semua pedagang se Malioboro juga turut turun ke dalam barisan menunggu Kirab sejak pagi. Muda-mudi usia kuliahan juga banyak bertebaran, mulai yang potongan seniman, sampe yang potongan biasa. Semuanya excited banget buat liat Kirab. Yang tadinya saya cuma iseng2 pingin liat, jadi ikut excited juga. 

Sesaat sebelum Kirab lewat, polisi dan petugas memperingatkan supaya tidak ada yang memanjat atap toko untuk melihat Kirab. Penonton dilarang melihat dari tempat tinggi. Panitia juga mengingatkan supaya semua payung di tutup. Dan Kirab pun dimulai.
Yang pertama tertangkap kamera saya, Bregada Patangpuluh (benar?), sebelum ini ada rombongan yang tidak sempat terfoto

Diikuti Kereta Notopuro yang dinaiki GBPH Prabukusumo dan GBPH Cakraningrat beserta istri
Yang dinanti-nanti: Kereta Jongwiyat dengan GKR Hayu dan KPH Notonegoro, the bride and the groom!

Atas: Kereta Ambarukmo yang dinaiki pendamping pengantin (benar?)
Kereta Rotobiru: orang tua pengantin pria (benar?)
Yang bikin saya tertarik adalah kostum kusir dan topinya yang berbulu2 itu :3

Yang membuat saya semakin bergetar adalah, ketika rombongan Kirab ini lewat, sesaat suasananya jadi hikmat. Bahkan saya bisa mendengar jelas alunan musik dari drum dan suling yang dimainkan oleh pasukan. Semua orang excited dan langsung angkat kamera masing2. Dan, begitu kereta Jongwiyat milik pengantin lewat, semua orang berteriak riuh menyapa pengantin dan membalas lambaian tangan KPH Notonegoro yang menghadap kearah barisan saya.

Kemudian, berikutnya adalah yang paling menarik buat saya, rombongan penari!

Para penari Bedaya yang sangat saya sukai!

Rombongan penari Lawung. Yang paling menarik buat saya


Menurut saya, ini definisi gagah untuk orang Jawa jaman dahulu 
Rombongan yang pertama melintas sekitar jam 9.00, sekitar jam 9.30 memasuki Kantor Kepatihan. Jadi saya berdiri nunggu Kirab sekitar 45 menit. Cuaca awalnya bersahabat karena agak berawan, tapi akhirnya cuaca berubah jadi terik dan puanas sekitar jam 9. Muka saya sampe kumal gara2 terik panas.

Rombongan pertama ini berisi 5 rombongan kereta kalo tidak salah, termasuk kereta pengantin. Sayangnya, sebagian turis dan penonton tidak tahu kalo rombongan terbagi menjadi dua, sehingga setelah rombongan penari Lawung dan Bregada dibelakangnya, banyak yang langsung membubarkan diri. Untungnya saya baca koran pagi itu, jadi saya sudah siap berdiri dibawah terik untuk menyaksikan rombongan yang kedua. Karena beberapa ada yang bubar (dan bahkan ada yang pingsan!) akhirnya saya dapat barisan yang lebih depan untuk melihat rombongan yang berikutnya :D lucky me!

Sekitar 15menit berselang sejak rombongan terakhir masuk Kepatihan, rombongan berikutnya datang lagi, dibuka dengan Bregada Wirabraja yang berpakaian serba merah.

Bregada Wirabraja
Bregada Daeng 
Bregada Ketanggung (kalo tidak salah)

Bregada ini yang memainkan musik 

Bregada Mantrijero
Para pasukan Bregada ini punya average age sekitar 40th sepertinya. Can u imagine it? mungkin yang termuda sekitar 30 tahunan. Yang tertua? mungkin 70 tahun. Mereka benar2 mengabdi seumur hidup. Sampai tua! modalnya apa? Pengabdian dan Kesetiaan! Bangsa Indonesia in general harus belajar begini nih
Kereta Wimana Putra yang ditumpangi Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas. Sayang GKR Hemas sedang menoleh kesana (^^ ;)

Ada Kereta Landower Wisman, Landower Surabaya, dan Landower Ijem yang dinaiki putri dan menantu Sri Sultan

GKR Bendara dan KPH Yudanegara yang ganteng :3
pasangan ini juga di kirab sewaktu menikah sekitar 1 tahun yll

Rombongan kereta terakhir yang membawa Pakualam beserta keluarga
 Dan akhirnya Kirab ditutup dengan rombongan Bregada lagi.Totalnya melibatkan 12 kereta kencana, 360 orang dalam Bregada, sekitar 72 ekor kuda pilihan, dan melibatkan ribuan penonton. GKR Hayu ini yang menikah paling akhir, walaupun bukan yang termuda. Berarti, tidak akan ada lagi hajatan seperti ini sampe generasi berikutnya. Saya merasa beruntung sempat berpartisipasi jadi penonton dihajatan kali ini. Karena belum tentu saya bisa ikut di hajatan berikutnya ;)
Saya diujung jalan Malioboro yang lengang

Suasana ketika Kirab berakhir. Penuh lautan manusia!
Overall, saya yang tadinya cuma iseng akhirnya ikut excited banget melihat Kirab ini. Apalagi dikelilingi dengan orang2 yang memang pingin sekali liat. Emang ngga ada untungnya nonton beginian, teman dan keluarga saya juga berpendapat "ngapain kamu kesana?" ketika saya bilang pingin lihat Kirab. Tapi emang buat sebagian orang bukan masalah apa yang mereka dapet, tapi sekedar rasa senang, rasa bangga, dan rasa menghormati serta pengabdian terhadap trah Raja Jogja ini. Menurut saya itu yang bikin Jogja itu Spesial banget. Masyarakatnya bener2 menghormati, mempercayai, dan mendukung Raja-nya. Itu yang membuat Jogja begitu istimewa.
Seluruh rangkaian Kirab dan resepsi di tayangkan di TV besar dijalan Malioboro ini

Beberapa orang menggadang-gadang Royal Wedding ini bakal jadi yang terakhir, bukan soal ini putri yang dinikahkan terakhir, tapi mereka berpikir bahwa tradisi ini tidak akan survive sampe ke generasi berikutnya. Nah, ini lah tugas kita, termasuk saya sebagai orang Jogja, bahwa tradisi2 luhur ke-jogja-an tidak boleh mati sampe disini. Ngga melulu soal tradisi pernikahan atau tradisi besar lain, tapi juga tradisi yang berlaku sehari-hari seperti santun di jalan, bicara sopan, dan semacamnya. That's the least I can do. Bahkan saya kemudian introspeksi diri, bahwa berikutnya saya harus bisa dan fasih bahasa Jawa. Habisnya, lahir dan tinggal 17 tahun di Jogja, tapi malah lebih fasih bahasa Inggris dan Jepang ketimbang bahasa Jawa Krama. Haduh, saya ini emang payah!

Selanjutnya yang saya incar adalah angkringan gratis! kabarnya ada 50 angkringan yang menawarkan aneka gorengan, nasi kucing, sampe buah segar secara Gratis! Sayangnya saya cari2 kok ngga keliatan. Saya ngga sempat mblusuk2 ke jalan2 kecil. Ternyata angkringannya berlokasi di dalam jalan kecil tersebut. Tapi, meskipun saya sweeping tiap2 jalan kecil pun, rasanya juga tetep ngga sempet merasakan sajian angkringan tersebut, gimana enggak, kabarnya dalam 30menit saja sajian angkringan itu sudah ludes ditangan para penonton Kirab! wow!

Dalam perjalanan menuju kembali ke stasiun, saya melihat banyak sekali pasangan berpakaian rapi dan kebaya naek becak kearah Kepatihan. Ternyata mereka tamu undangan dari resepsi Sri Sultan yang terpaksa harus turun diujung jalan Malioboro karena akses kendaraan ditutup. Akhirnya pak Becak yang mengantar mereka menuju ke Kantor Kepatihan yang lokasinya cukup jauh dari ujung jalan Malioboro. Lumayanlah, tukang becak menuai rejeki juga dari hajatan ini :D

Rombongan anak SD beserta guru mereka 
Saya ditengah kerumunan penonton :D Diliatin pak polisi gara2 foto2 sendirian. huks
Oke, dalam petualangan kali ini saya melakukan beberapa kesalahan karena minimnya persiapan.
1. Harus siap kamera yang lebih oke. BB saya shutternya terlalu lambat, jadi sering kelewatan momen apik.
2. Harus siap partner. Karena malu lho diliatin orang lagi foto2 sendirian :p
3. Harus bawa bekal minum! karena minum yang dijual pedagang asongan harganya selangit, sementara semua mini mart dan resto yang buka pagi itu dan menyajikan minuman semuanya penuh sesaaaaakkk! Alhasil saya harus nahan haus sampe dilokasi belajar bersama :p

Sekian laporan saya dari TKP, apabila ada kesalahan informasi dan kesalahan ketik, mohon maaf. Informasi mengenai event ini saya peroleh daru Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 21-23 Oktober 2013 

You Might Also Like

1 comments

Tinggalkan pesan manismu disini yah..... =)
Yang ninggalin pesen sama manisnya ma yang nulis blog...
hahaha

Follow me on Instagram

Instagram

Share it!