The Raid: film silat penuh darah berstandar Internasional.

8:56:00 AM

gemes luar biasa habis ntn the Raid. Rasanya otak ini muntup2 pingin melimpahkan segala macam opini yg terbentuk selama ntn film Indonesia yg satu itu. Film Indonesia terakhir yg saya tonton di bioskop  adalah "Darah Garuda" sekuel dari "Merah Putih", itu aja ditonton setelah vakum ntn film Indonesia lbh dr 5 tahun. Terutama belakangan ini, saya sudah ngga minat ntn gara2 tema film2 indonesia melulu romance, seks, horror, atau komedi, yg aku ngga tertarik. Berhubung sy suka sekali film perang (sejarah) dan film2 Asing, klo milih film wktu ntn di bioskop pasti rewel. Cuma trilogy "Merah Putih" dan "the Raid" ini film (semi)lokal yg saya lihat "berbeda" dan keren!

Baiklah, kita mulai opini saya, sekali lagi OPINI saya ttg film the Raid.

Waktu masuk scene2 awal gitu, saya agak kaget liat adegan sholat, karena temen2 yg udah pada duluan ntn selallu bilang "ini film sadis", jadi terasa agak kontradiktif waktu liat adegan sholat yg khusyuk itu. Tapi saya agak terganggu sekaligus kaget melihat adegan dimana sang tokoh utama yg diperankan Iko Uwais itu berpamitan sama istrinya sebelum bertugas, karena 1. saya ngga terlalu suka pemeran istrinya, 2. kok bahasanya terasa sangat kaku dan ngga natural ya???

Adegan berikutnya sewaktu briefing di dlm van juga bahasanya terasa agak kaku, formal tapi tidak formal, santai tapi tidak santai (bingung kan gmn bahasanya??). Karena bahasanya yg agak gimana gitu dan tempo bicaranya yg agak cepat dan ngga jelas (mungkin karena logat kah??), kadang saya sampe harus nanya teman saya karena kurang paham dengan bahasanya.

aksi dengan senjata laras panjang. Cool!
ngga keliatan ky main2 kan?
Saya mulai tertegun dan terkagum sewaktu mereka mulai keluar dari van dan memulai aksi "tentara"-nya dengan senjata laras panjang mereka. Sebagian membawa senjata tipe riffle dan ada yg bawa shotgun juga. Dari cara mereka menodongkan senjatanya terlihat natural (jelas llebih natural dibanding film2 Indonesia manapun yg saya tonton--tp agak beda dengan trilogy "merah putih" krn tipe senjatanya agak beda dan latar belakang jaman juga beda). Ketika mereka berjalan dan menyisir lantai sekitar gedung itu juga terlihat natural. Sudah "dekat" dengan gaya film2 Amerika lah, walaupun ada sedikit perasaan "ah, lebay nih orang indonesia" :p
adegan "mau perang"

Setelah itu adegan mulai berubah makin ganas dengan adegan tembak menembak yang sengit, darah yg bercecer dimana2, mayat yg tergeletak dimana2. Untuk adegan2 tersebut, efek yg digunakan sudah sangat keren. ky ntn film2 Amerika (yaiyalaaaahhh). Warna darah yg dipake disini sangat oke bahkan lebih oke dibanding bbrp film aksi keren yg saya tonton (seperti film seri Athena-korea), warnanya bukan pink atau merah, melainkan merah tua dg kekentalan yg pas, serta gradasi yg tepat antara merah pekat hingga merah encer agak kekuningan. Slow motion dibeberapa adegan tembak menembak ini juga bikin film ini tambah oke. Adegan ledakan pun terlihat "ngga maksa". Tata artistik dalam setiap pengambilan scene-nya itu seperti punya makna, dan bagus. Belum ditambah bagian dekorasi dan properti yg membuat ruangan tersebut terlihat benar2 "hancur" karena serangan dan ledakan. Saya bahkan berpikir, Indonesia perlu bikin film2 perang lagi nih kynya, kalo efeknya sudah bisa belajar sekeren ini.

ngga ada pistol, golok pun jadi!
efek darah, keringet, dll--> oke bgt
Kemudian persenjataan mulai ditinggalkan, dari adegan berikutnya, yg byk muncul adalah pertarungan one-on-one (kadang keroyokan juga sih), dengan senjata tangan atau senjata jarak pendek seperti golok (atau parang ya?), pisau, tonfa baton (stik-nya polisi itu kan?), maupun tangan kosong. Kerennya lagi, ilmu beladirinya adalah ilmu silat. Sangat keren dan cepat. Yang membuat fighting scene ini juga begitu hebatnya sampe saya keinget sama film2nya Jackie Chan, cepat, akurat, dan powerful. Saya berdecak kagum lagi melihat pertarungan tampak begitu NYATA, ketika sang lawan terhantam, maka terlihat seperti benar2 terhantam, saya ngga tau gimana efek bisa dihadirkan disini sehingga gambaran terlihat begitu cepat dan nyata. Adegan2 dimana kepala dihantamkan ke dinding, ke lantai dan yg paling sadis dihantamkan ke potongan kayu pintu yg rusak, semua terlihat oke. Alur pertarungan dalam gedung ini ditata dg baik.

Yang saya lebih gemes lagi adalah kehadiran musuh2 yg terbilang "unik", salah satunya adalah grup berkulit hitam yg berbicara dengan logat Indonesia timur (logat sulawesi-ambon-papua gitu). Aksi mereka begitu sadis dengan goloknya, tapi begitu mereka mulai adegan dengan dialog, seisi bioskop langsung tertawa terbahak2. Saya ngga tau adegan itu dimaksudkan sbg komedi atau bukan, yg pasti penontonn terhibur ditengah2 ketegangan.

the man with 9 lives,
mirip siapa hayyoo???
Setelah itu ada lagi si Ultimate enemy, musuh yg kuat banget nggak mati2, udah gitu kata temen2 saya wajahnya mirip salah satu paranormal ternama Indonesia. Semakin seisi bioskop menjadi2. Tapi saya kagum betul dengan peran musuh yg satu ini. Karena beladirinya sangat keren, terutama ketika adegan perkelahian 2 lawan 1, entah dengan efek atau mmg ilmu silatnya tingkat dewa, tapi karakter ini emng terlihat sangat dewa, bener2 ngga mati2 seolah2 pnya byk nyawa.

tampak mengintimidasi, walaupun modal
cuma kaos singlet
Di sini saya juga terkesan dengan akting Ray Sahetapy yg kelihatan sangat evil, walaupun saya benci kemunculan pertamanya karena dia diperlihatkan sedang makan mie goreng instan (emangnya anak kos kere diakhir bulan??). Wajahnya dibuat sedikit pucat dengan gigi yg agak kuning. Ditambah lg bibirnya yg sekilas2 mirip Joker di Batman, bikin mukanya semakin evil. Gaya bicaranya tenang tapi penuh aura kejam, saya rasa peran ini "dapet" lah. Benar2 keliatan kualitas artis papan atas yg sudah senior ini. Hanya saja, matinya kok lebih singkat dan praktis, dibanding musuh yg lain ya?? *spoiler*

Menurut saya, plot dari film ini cukup simple. Atau emang SIMPEL sesimpel budgetnya. Intinya hanya penyergapan ke markas penjahat yg berjalan kurang mulus. Plot ini mirip dengan film favorit saya sepanjang masa "Black Hawk Down" dimana ceritanya sangat sederhana, awalnya hanya penyerbuan ke basecamp musuh yg seharusnya singkat, namun harus menjadi peperangan panjang gara2 si black hawk penjemput ini tertembak dan jatuh. The Raid ini juga sama, andaikata si anak kecil itu ngga lari dan teriak "polisi!" ke temennya, pasti penyerangan mereka ngga akan se"berantakan" itu *spoiler*. Sama dengan "andaikata si black hawk itu ngga jatuh". Plusnya lagi, ada bumbu "keluarga" di dalam plot film ini.

pertarungan terasa "nyata"
Martial arts di film ini mendominasi adegan2 yg ada. Bahkan lebih banyak teriakan ""heeeaaaaaaaaaaa""" "aaaaaaaaarrrrrrrrghhhhhh" "aaaaaaa~~!!" daripada dialog. Tapi memang adegan martial arts itulah yg sangat menjual, sangat indonesia, dan penggambarannya begitu rapi dan nyata. Properti yg dipake pun kelihatan nyata bahkan saat menghantam tubuh pemain film, nggak seperti film Indonesia kebanyakan yg keliatan "pura2". Bahkan sekarang saya jadi kagum banget sama silat dan mensejajarkan silat dengan kung fu yg jauh lebih dulu terkenal. Saya juga jadi kepikiran, kenapa film ini ngga dijuduli "the Silat" atau "Silat man" atau "the power of Silat" aja ya? :p

mirip VJ daniel
Soal para aktor, nggak cuma Ray Sahetapy, Iko Uwais sebagai tokoh utama juga tidak mengecewakan. Ia keliatan begitu tenang dan berkharisma. Kalo saya sih langsung melting ngeliatnya :p. Belum lagi dengan kehadiran Doni Alamsyah yg begitu macho (ini pun juga bikin saya melting). Bahkan saya jadi naksir sama swater yg diapake di film ini gara2 bahunya yg keliatan bidang dan keren diballut sweater ini :p. Selain itu ada juga Joe Taslim yg memerankan sersan Jaka. Aktor yg satu ini juga bikin penonton bioskop pada ribut, soalnya ngira ini orang adalah VJ Daniel. Emang mirip banget sih!

Tapi film ini juga memiliki sisi negatif, secara di Indonesia tidak ada penyergapan yg tidak mengindahkan perikemanusiaan. Kalo kita liat difilm ini byk sekali adegan yg dikatakan --oleh byk teman2 saya-- sadis. Di kenyataan sih, ngga ada penyergapan yg sesadis itu. Bagaimanapun juga mereka manusia. Ngga seharusnya dibantai kaya gitu. Penjahat sekalipun (atau saya yg terlallu baik?? :p). Bahkan kadang waktu saya lihat darah begitu bnyak muncrat dan adegan2 yg begitu heboh dan sadis, saya jadi kepikiran, ini musuhnya zombie apa orang sih? kok enak banget kayanya mbantainya kaya mbantai zombie. Klo zombie mah emang udah nasib buat dibantai2 gitu :p (tp emang peran musuh2nya itu digambarkan 'ngga punnya otak' kaya zombie sih...)

Overall film ini bagus dan layak tonton (bgt!). Festival film yg sudah menganugerahi penghargaan ke film ini juga ngga salah terhadap pilihannya. Meskipun tergolong sadis, tapi film ini terasa Nyata (walau secara cerita sih tetep ngga "real"). Berita gembiranya lagi, the raid ini dikabarkan bakal punya sekuel. Walau film ini bukan pure buatan anak bangsa, tp ttp ngga sabar deh nunggu sekuellnya. Asyik deh, kembali bangga ntn film Indonesia di Bioskop!

sekian opini saya, boleh setuju atau tidak setuju. yg pnting: Ayo terus tingkatkan kualitas film Indonesia!


You Might Also Like

3 comments

  1. Menurutku sih ya ini, beladirinya itu ngga cuma pencak silat kok..tiap karakter mewakili 1 basic bela diri..

    1. Tokoh utama sama 1 orang yg naik ke atas ketemu sama ray sahetapy ini basicnya pencak silat.

    2. Daniel mananta ini basicnya karate.

    3. Kakaknya tokoh utama ini basicnya taekwondo.

    4. Ki Joko Bodo yang super kuat itu free style martial art kalo ngga taeboxing agak nggak jelas juga :D

    5.Toro margen, polisi yg rambutnya putih itu nggak jelas..ngga tau juga dia bisa bela diri apa enggak sebenernya -_-

    ReplyDelete
  2. hwoaa... thanks buat informasi dan koreksinya :D

    Kaget juga ternyata martial artsnya banyak. Kalo gitu judul film ini diganti jadi "Martial arts showdown" kynya lebih seru :p

    kidding!

    saya cuma bisa liat karate si VJ Daniel KW itu dan pencak silat. Soalnya saya cm tau Silat dan kebetulan teman dekat saya atlet Karate :)

    ReplyDelete
  3. salah satu film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton setelah Petualangan Sherina, AADC, dan Cermin :)

    informatif mbak postingannya
    meski udah jadul (3 tahun lalu) tetap nyambung...

    ReplyDelete

Tinggalkan pesan manismu disini yah..... =)
Yang ninggalin pesen sama manisnya ma yang nulis blog...
hahaha

Follow me on Instagram

Instagram

Share it!